Halaman

Selasa, 24 November 2015

Perbedaan Identitas Sebagai Pemicu Konflik di Indonesia



Abstrak
            Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak keaneragaman. Banyaknya budaya, suku membuat Indonesia menjadi dinamis, baik itu dalam keaneragamannya maupun konfliknya. Keaneragaman tersebut dapat juga dikarenakan Indonesia adalah negara kepulauan (Archipelago), dengan banyaknya pulau maka tiap budaya serta suku juga agaknya sedikit berbeda. Contohnya saja di Jawa Tengah dengan Yogyakarta, mungkin masih dalam lingkup Pulau Jawa, tapi buktinya budaya kedua wilayah ini agak berbeda, apalagi dengan pulau yang berbeda, misalnya budaya Yogyakarta dengan budaya Bali.
            Banyaknya suatu perbedaan dalam suatu negara, maka semakin besar pula konflik yang akan terjadi. Perbedaan suku, budaya, bahkan watak juga merupakan potensi terjadinya konflik. Identitas pada setiap individu maupun kelompok merupakan faktor penentu disetiap konflik yang terjadi. Banyak konflik di Indonesia biasanya karena perbedaan identitas diri. Para individu maupun kelompok ini biasanya berpikiran bahwa mereka lebih tinggi dari individu maupun kelompok lain. Konflik dapat pula terjadi ketika individu maupun kelompok merasa menjadi minoritas ataupun merasa termarjinalkan oleh kelompok mayoritas, sehingga mengakibatkan gap antar keduanya.
            Tidak adanya penyeragaman frame terkait Indonesia itu satu juga merupakan salah satu penyebab konflik yang terjadi saat ini, bahkan dari dulu. Sebagai warga Indonesia tentu harus berpikiran bahwa kita ini Indonesia, bukan masih membawa ego kultural masing-masing. Mungkin memang tidak dapat melepaskan ego kultural, tapi alangkah baiknya jika tiap individu maupun kelompok mampu meredam hal tersebut.

Keyword : Keaneragaman, Konflik, Identitas, ego-kultural.

Sabtu, 27 Juni 2015

Kebijakan Amerika Serikat terhadap Korea Utara

Link Anggota Kelompok 3
learnbacktoseethefuture.wordpress.com by Rizta Safitri
Militer-RhezaAditya.blogspot.com by Rheza Aditya 
Gedemaolana.blogspot.com by Gede Maolana
Assignmenthi.blogspot.com  by Adhi Sudrajat
AmandaNabhila.blogspot.com by Amanda Nabhila
Filletasya.blogspot.com by Tasya Prisma Avissa 
    

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, banyak Negara-negara memerdekakan diri, rasa nasionalisme tumbuh seriring dengan persamaan perasaan sepenanggungan karena dijajah. Beberapa tahun kemudian terjadi perang urat saraf antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dimana mereka menyebarluaskan ideologi mereka masing-masing yang biasa disebut dengan Perang Dingin. Salah satu dampak yang sangat terlihat hingga sekarang adalah terbaginya Korea Utara dengan korea selatan pada tahun 1953. Korea Utara mengikuti Uni Soviet sebagai Negara Sosialis Komunis dan Korea Selatan merujuk pada Amerika Serikat sebagai Negara liberal kapitalis. Amerika Serikat sebagai Negara adidaya tentu saja tidak mau reputasinya tersaingi dalam perebutan kekuasaan, apalagi berebut kekuasaan dikawasan strategis seperti Asia Timur. Selain itu juga Amerika berupaya untuk menghambat laju China yang semakin kuat, ekonomi maupun militernya dan yang paling utama adalah menghambat lau ideologi Sosialis Komunis yang disebarkan oleh Uni Soviet maupun China.
           Dalam masa perang dingin Amerika Serikat menerapkan kebijakan luar negeri “containment” untuk menghadang penyebaran ideologi Sosialis Komunis dalam pengaruh internasional. Pun diperparah dengan hubungan Korea Utara dengan china yang semakin erat saat perang dingin.