Link Anggota Kelompok 3
learnbacktoseethefuture.wordpress.com by Rizta Safitri
Militer-RhezaAditya.blogspot.com by Rheza Aditya
Gedemaolana.blogspot.com by Gede Maolana
Assignmenthi.blogspot.com by Adhi Sudrajat
AmandaNabhila.blogspot.com by Amanda Nabhila
Filletasya.blogspot.com by Tasya Prisma Avissa
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, banyak Negara-negara memerdekakan diri, rasa nasionalisme tumbuh seriring dengan persamaan perasaan sepenanggungan karena dijajah. Beberapa tahun kemudian terjadi perang urat saraf antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dimana mereka menyebarluaskan ideologi mereka masing-masing yang biasa disebut dengan Perang Dingin. Salah satu dampak yang sangat terlihat hingga sekarang adalah terbaginya Korea Utara dengan korea selatan pada tahun 1953. Korea Utara mengikuti Uni Soviet sebagai Negara Sosialis Komunis dan Korea Selatan merujuk pada Amerika Serikat sebagai Negara liberal kapitalis. Amerika Serikat sebagai Negara adidaya tentu saja tidak mau reputasinya tersaingi dalam perebutan kekuasaan, apalagi berebut kekuasaan dikawasan strategis seperti Asia Timur. Selain itu juga Amerika berupaya untuk menghambat laju China yang semakin kuat, ekonomi maupun militernya dan yang paling utama adalah menghambat lau ideologi Sosialis Komunis yang disebarkan oleh Uni Soviet maupun China.
learnbacktoseethefuture.wordpress.com by Rizta Safitri
Militer-RhezaAditya.blogspot.com by Rheza Aditya
Gedemaolana.blogspot.com by Gede Maolana
Assignmenthi.blogspot.com by Adhi Sudrajat
AmandaNabhila.blogspot.com by Amanda Nabhila
Filletasya.blogspot.com by Tasya Prisma Avissa
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, banyak Negara-negara memerdekakan diri, rasa nasionalisme tumbuh seriring dengan persamaan perasaan sepenanggungan karena dijajah. Beberapa tahun kemudian terjadi perang urat saraf antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dimana mereka menyebarluaskan ideologi mereka masing-masing yang biasa disebut dengan Perang Dingin. Salah satu dampak yang sangat terlihat hingga sekarang adalah terbaginya Korea Utara dengan korea selatan pada tahun 1953. Korea Utara mengikuti Uni Soviet sebagai Negara Sosialis Komunis dan Korea Selatan merujuk pada Amerika Serikat sebagai Negara liberal kapitalis. Amerika Serikat sebagai Negara adidaya tentu saja tidak mau reputasinya tersaingi dalam perebutan kekuasaan, apalagi berebut kekuasaan dikawasan strategis seperti Asia Timur. Selain itu juga Amerika berupaya untuk menghambat laju China yang semakin kuat, ekonomi maupun militernya dan yang paling utama adalah menghambat lau ideologi Sosialis Komunis yang disebarkan oleh Uni Soviet maupun China.
Dalam
masa perang dingin Amerika Serikat menerapkan kebijakan luar negeri
“containment” untuk menghadang penyebaran ideologi Sosialis Komunis dalam pengaruh internasional. Pun diperparah
dengan hubungan Korea Utara dengan china yang
semakin erat saat perang dingin.
Pada
Juli 1961, persekutuan China-Korea Utara dikukuhkan dengan penandatangan
Traktat Persahabatan, Kerjasama, dan Bantuan Imbal-Balik (Treaty of
Friendship, Cooperation and Mutual Assistance). Isinya antara lain saling
memberikan bantuan militer apabila salah satu dari kedua negara diserang,
menghormati dan tak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara, serta
melakukan kerjasama bidang ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Berakhirnya perang dingin dengan “kemenangan” Amerika
Serikat yang menandakan bahwa ideologi liberal kapitalislah yang mampu bertahan. Walaupun Uni Soviet
telah kalah dan terbagi kebeberapa Negara namun ideologi komunis tidak
sepenuhnya mati, beberapa Negara pecahannya masih
perpaham Sosialis Komunis seperti Rusia. Pun beberapa Negara di luar pecahan
uni soviet masih menerapkannya seperti China, Kuba dan Korea Utara.
Pada tahun 1993 terjadi kecurigaan terhadap Korea Utara bahwa
Pyongyang (Ibu Kota Korea Utara) terbukti mencoba mengembangkan
senjata nuklir, setelah itu Korea Utara menarik
diri dari perjanjian NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), sehingga menimbulkan krisis nuklir Korea
Utara putaran pertama. Pada 1994 hampir terjadi perang antara Korea Utara dan Amerika
Serikat namun berakhir deangan perjanjian Jenewa. (World.kbs.co.kr) Masalah energilah
faktor utama mengapa Korea Utara mengembangkan nuklir, namun karena Amerika
Serikat takut akan dampaknya yang meluas maka
mereka membuat perjanjian di atas, salah satu isinya ialah pemasokan reaktor
air ringan guna mengganti energi dari nuklir. Di bawah ini isi lain perjanjian
Jenewa adalah: (World.kbs.co.kr)
a. Kerjasama untuk memperkuat sistem Non-Proliferation Treaty (NPT) Korea Utara akan meneruskan keanggotaannya dalam
NPT, dan akan segera menerima inspeksi nuklir oleh International Atomic Energy Agency (IAEA)
segera setelah ditandatanganinya perjanjian untuk menerima reaktor air ringan.
b. Denuklirisasi dan perdamaian Semenanjung Korea
c. Normalisasi hubungan politik dan ekonomi antara Amerika Serikat
dan Korea Utara
Amerika Serikat sebagai kekuatan tunggal paska perang dingin pada tahun 1991
hingga 2001 berupaya untuk mensinergikan Negara-negara untuk bergabung dalam
haluannya yaitu demokrasi dan oleh karenanya merasa perlu untuk menjaga perdamaian
internasional. Terjadinya serangan 11 September 2001 di World Trade Center mengubah
kebijakan Amerika Serikat dari mensinergikan Negara-negara yang
ikut Perang Dingin kekebijakan global untuk memerangi teroris atau “War on Terrorism”. Pun
hingga sekarang kebijakan tersebut masih dijalankan, bahkan mampu untuk
mengubah tatanan internasional untuk bersama-sama memerangi terorisme. Berbeda dengan Negara satu ini, Korea Utara malah
meledek Amerika Serikat bahwa terorisme hanyalah sebuah kedok baginya untuk
memenuhi kepentingannya di Negara-negara Islam. (Erteerwe.com) Tidak hanya itu,
akhir-akhir ini Korea Utara juga semakin gencar mengembangkan teknologi
nuklirnya, belum pasti digunakan untuk bertahan atau menyerang, yang jelas
tentu saja mengganggu keseimbangan kawasan dan membuat geram Amerika Serikat.
Bibliography
(n.d.). Retrieved Mei Kamis, 2015,
from World.kbs.co.kr:
http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/faq_01.htm
(n.d.). Retrieved Mei Kamis, 2015, from
Erteerwe.com:
http://www.erteerwe.com/2014/08/presiden-korut-terorisme-hanyalah-kedok.html
Fitria, D. (n.d.). Retrieved Mei Kamis,
2015, from Historia.id:
http://historia.id/mondial/persepsi-china-tentang-korea-utara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar