Halaman

Jumat, 02 Agustus 2019

Vegetarian - Han Kang

Related image
diambil dari Google.com

Membaca keseluruhan buku ini mengingatkanku akan lirik lagu dari Bondan Prakosa, “dari mimpi semua hal dapat terjadi”. Ya, seorang wanita bernama Young Hye menjadi peran utama dalam novel wanita asal Korea ini. Meskipun dia peran utama, namun dalam cerita dia tidak lantas bercerita tentang kehidupan dirinya sendiri, melainkan tiga orang yang dekat dengannya. Benar, cerita ini diambil dalam tiga sudut pandang, pertama adalah suaminya, kedua kakak iparnya (suami kakak kandungnya), dan kakak kandungnya (perempuan juga).

Cerita memang diawali dengan kehidupan Young Hye yang sudah berkeluarga dan baik-baik saja. Semua berubah tatkala dia mulai menjadi seorang vegetarian. Dan itu dikarena dia bermimpi sesosok makhluk yang menyeramkan yang mulutnya penuh darah setelah memakan daging. Setelah mimpi itu, hidup Young Hye tak terkontrol lagi, entah itu dari yang hanya makan sayuran dan jarang tidur karena takut bermimpi lagi.

Menunggu Kematian

Aku sungguh sangat gila. Melihat dunia yang fana, dengan mata yang nyata, namun tak berdaya. Hanya bisa meronta, tanpa kata-kata, meskipun semua semu belaka. Namun aku bangga, mampu hidup di dunia, meskipun penuh suka cita, semua hanya membuatku merasa hina. Ah kalang kabut aku dibuatnya.

Dunia ini hanya sandiwara, katanya. Namun bukankah dirimu menikmatinya? Aku saja sangat menikmatinya, meskipun aku merasa, perlu belas kasihan yang nyata, atau hanya sesuap nasi yang nyata. Dunia ini penuh liku dan hanya menunggu kaku.

Aku seorang diri mencoba bertahan, meskipun aku sungguh takut akan ketiadaan. Meninggalkan bekas-bekas yang tak bermanfaat untuk khalayak sahabat. Aku mencoba seorang diri untuk belajar, mencari kesadaran diri dengan termangu.

Aku sungguh sangat kesepian. 

ditulis pada 12 Agustus 2018

Kamis, 01 Agustus 2019

Percakapan Menyayat Hati


“Bajingan kamu, pecun!” kata Anton sambil menampar pipi Asti dengan keras.
“Maaf mas maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi, sungguh.” Jawab Asti sambil sesenggukan menangis dengan tangan kiri menutup pipi kirinya sehabis terkena tamparan.
Setelah itu, Anton pun pergi dengan menggandeng perempuan lainnya. Anton pergi dengan senyum indah pada perempuan yang dibawanya, sambil menyolek pantat perempuan itu. Perempuan itu hanya tertawa girang melihat muka Anton.

Merpati yang Terbang Saat Purnama Bersinar


Image result for ilustrasi merpati
diambil dari Google.com
Aku seekor merpati yang hanya ingin terbang jika purnama bersinar. Minggu ini purnama akan sangat terang, dan aku belum tahu akan kemana. Aku hanya seekor merpati yang tidak pernah menetap selama lebih dari satu bulan. Itu semua karena aku akan terbang bebas tatkala purnama bersinar terang. Aku tidak pernah menetap untuk kedua kalinya dalam hidupku, itu adalah sebuah prinsip. Kedua orang tuaku, yang entah siapa, merpati peranakan asing atau pribumi aku tak tahu selalu mengajarkanku untuk hidup mandiri dan tidak tergantung pada merpati lain. Maka dari itu aku selalu terbang sendiri, mengikuti kata hatiku yang selalu dirundung rindu, karena harus terbang tatkala sinar rembulan terang, dan itu saat purnama bersinar, saat bulan bulat utuh tanpa dibuat-buat.
Bulan itu utuh biasanya dua hari dan aku selalu mencari tempat yang aku ingin kan, mencari tempat yang menurutku aman untuk selalu berkontemplasi ataupun merenungi tentang hidupku ke depan. Aku selalu sadar, hidupku tidak lama, palingan hanya beberapa tahun saja. Sejak kecil, orang tuaku yang selalu mencarikanku makan, membuatkanku sarang yang hangat, yang selalu melolohiku dengan cacing yang kadang ditemukannya ditanah, pergi tanpa alasan. Sejak kecil aku selalu bersama satu merpati yang membesarkanku, dialah yang kusebut orangtuaku, aku tidak tahu dia jantan atau betina, aku tidak peduli juga, pada intinya aku bisa merasakan kehangatan belaiannya saat kumembutuhkan. Namun suatu saat dia pergi tanpa alasan. Entah mati ditembak atau mati dimangsa hewan lain. Sejak saat itu aku sendiri, hingga sekarang. Aku terbang kemanapun aku suka, itu karena aku belajar terbang sendiri. Melelahkan memang, tapi aku harus bertahan, sebelum ajal menjelang. Toh hanya beberapa tahun aku sanggup hidup, tak lebih dari sepuluh tahun palingan.