Halaman

Jumat, 30 Oktober 2020

Perihal Kematian

diambil dari Google

Aku berangkat kerja jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi. Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk kerja.

Jam setengah delapan aku menunggu tukang kayu di gudang kayu milik keluargaku. Menunggu karena aku ingin memberikan kunci gudangku agar bisa dibuka-tutupnya gudangku, barangkali dia ingin makan siang, dan lagi karena aku tak dapat mempersiapkan makan siangnya.

Jam delapan tepat tak kunjung dating, rasa khawatir karena terlambat mulai merasa. Perjalananku jauh dan aku harus sampai sebelum jam setengah Sembilan. Akhirnya dia meneleponku, mengabari ketakbisaannya dalam kehadiran; membuat anyaman kayu yang berbagai rupa. Aku pun memasukkan kunci itu lagi, ke dalam tasku, yang akan aku bawa ke tempatku bekerja. Ah, sungguh, menunggu membuang waktu.