Halaman

Jumat, 30 Oktober 2020

Perihal Kematian

diambil dari Google

Aku berangkat kerja jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi. Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk kerja.

Jam setengah delapan aku menunggu tukang kayu di gudang kayu milik keluargaku. Menunggu karena aku ingin memberikan kunci gudangku agar bisa dibuka-tutupnya gudangku, barangkali dia ingin makan siang, dan lagi karena aku tak dapat mempersiapkan makan siangnya.

Jam delapan tepat tak kunjung dating, rasa khawatir karena terlambat mulai merasa. Perjalananku jauh dan aku harus sampai sebelum jam setengah Sembilan. Akhirnya dia meneleponku, mengabari ketakbisaannya dalam kehadiran; membuat anyaman kayu yang berbagai rupa. Aku pun memasukkan kunci itu lagi, ke dalam tasku, yang akan aku bawa ke tempatku bekerja. Ah, sungguh, menunggu membuang waktu.

Jam delapan lebih lima menit kutarik gas motor yang tiap pagi kupakai, aku menyadari, aku gelisah, kadang mendesah, meributkan kesia-siaanku dalam menunggu, dan itu dapat membuatku terlambat sampai ke tempatku bekerja.

Jam delapan lebih dua puluh menit aku kaget saat truk kuning entah membawa apa, menghantamku dari belakang. Dan saat itu lah aku sadari, bahwa truk warna kuning itu adalah ingatan terakhirku.

*

Aku berangkat kerja jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi. Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk kerja.

Jam setengah delapan aku menelepon tukang kayu di depan gudang kayu milik keluargaku untuk memberikan kunci agar dia bisa keluar-masuk, aku terus saja meneleponnya, ada rasa khawatir yang entah itu dari mana; mungkin aku butuh kepastian. Tak diangkat olehnya, akhirnya aku berangkat dengan nekat. Berpikir kalau tukang kayu itu jadi datang, biarlah dia pulang kembali, karena kuncinya aku bawa.

Jam delapan kurang lima belas menit, aku melaju dengan kecepatan 60 KM/jam, aku diburu waktu, untuk masuk kerja. Sebelum setengah Sembilan harus sudah tiba. Kurang dari 2 meter ada palang pintu kereta, dan sudah berbunyi.

Aku ragu, aku ingin cepat, namun akhirnya aku melambat. Tepat sebelum palang menutup, tanpa aku sadari, tanganku mengegas motorku. Aku berhasil melewati palang pertama, tapi naas, palang kedua sudah tertutup. Kupingku bising, banayk orang berteriak, “awas, awas, awas!” pekak sekali kupingku, ditambah suara klakson, “tin, tin, tiiiiinnnnn!”

Cukup, suara-suara itu membuatku pusing, inginku sandarkan badanku ketepi. Naas, sebelum ngegas motorku, suara dekat sekali; kereta api. Berbaju besi nan berisi. Sungguh pemandangan yang sempurna, aku tersenyum Indah padamu yang entah siapa di gerbang depan. Lalu gelap seketika.

*

Aku berangkat kerja jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi. Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk kerja.

Jam setengah delapan aku menunggu tukang kayu di depan gudang kayu milik keluargaku. Aku ingat mimpi buruk semalam yang membuatku terbangun. Dalam mimpi itu aku mati tiga kali, namun aku dapat hidup kembali, aneh, tapi aku merasa itu sangat nyata. Pada intinya, mimpiku berpesan kematian bisa datang kapan saja, tanpa pernah manusia tahu. Tak berselang lama dia datang dengan senyum masamnya. Kemudian aku pun bergegas, melihat jam tangan yang kupakai, aku takut terlambat kerja.

Jam delapan kurang lima belas menit, aku merasa tenang, masih banyak waktu sebelum satpam menutup tempat kerjaku. Aku pun mengendarai dengan hati-hati, merasa bahagia akan sampai ke kantor tepat waktu. Namun, sesuatu terjadi. Ban motorku pecah dipertangahan jalan menuju kantor.

Aku merasa bersalah, mengapa tak kupompa dulu sebelum berangkat. Aku pun menuntunnya. Jam delapan lebih lima menit, aku merasa lelah dan frustasi. Aku kira hari ini akan sangat membahagiakan, dengan awalan tidak terlambat ke tempat kerja. Tapi tak mengapa, semua sudah ada jalannya.

Suara klakson keras sekali, aku sempat kaget. Dan saat kulihat ke belakang, ada bis Eka dengan kecepatan luar biasa, mungkin mengejar setoran, 100 meter tepat di belakangku. Kulepas tangan dari stang, mencoba melompat ke tepi jalan dekat penjual bensin. Naas, saat aku melompat, tetiba hitam semua, dan entah dimana.

Yogyakarta, Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar