![]() |
| diambil dari Google |
Aku berangkat kerja
jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut
yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi.
Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk
kerja.
Jam setengah delapan
aku menunggu tukang kayu di gudang kayu milik keluargaku. Menunggu karena aku
ingin memberikan kunci gudangku agar bisa dibuka-tutupnya gudangku, barangkali
dia ingin makan siang, dan lagi karena aku tak dapat mempersiapkan makan
siangnya.
Jam delapan tepat tak
kunjung dating, rasa khawatir karena terlambat mulai merasa. Perjalananku jauh
dan aku harus sampai sebelum jam setengah Sembilan. Akhirnya dia meneleponku,
mengabari ketakbisaannya dalam kehadiran; membuat anyaman kayu yang berbagai
rupa. Aku pun memasukkan kunci itu lagi, ke dalam tasku, yang akan aku bawa ke
tempatku bekerja. Ah, sungguh, menunggu membuang waktu.
Jam delapan lebih lima menit kutarik gas motor yang tiap pagi kupakai, aku menyadari, aku gelisah, kadang mendesah, meributkan kesia-siaanku dalam menunggu, dan itu dapat membuatku terlambat sampai ke tempatku bekerja.
Jam delapan lebih dua
puluh menit aku kaget saat truk kuning entah membawa apa, menghantamku dari
belakang. Dan saat itu lah aku sadari, bahwa truk warna kuning itu adalah
ingatan terakhirku.
*
Aku berangkat kerja
jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut
yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi.
Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk
kerja.
Jam setengah delapan
aku menelepon tukang kayu di depan gudang kayu milik keluargaku untuk
memberikan kunci agar dia bisa keluar-masuk, aku terus saja meneleponnya, ada
rasa khawatir yang entah itu dari mana; mungkin aku butuh kepastian. Tak
diangkat olehnya, akhirnya aku berangkat dengan nekat. Berpikir kalau tukang
kayu itu jadi datang, biarlah dia pulang kembali, karena kuncinya aku bawa.
Jam delapan kurang
lima belas menit, aku melaju dengan kecepatan 60 KM/jam, aku diburu waktu,
untuk masuk kerja. Sebelum setengah Sembilan harus sudah tiba. Kurang dari 2
meter ada palang pintu kereta, dan sudah berbunyi.
Aku ragu, aku ingin
cepat, namun akhirnya aku melambat. Tepat sebelum palang menutup, tanpa aku
sadari, tanganku mengegas motorku. Aku berhasil melewati palang pertama, tapi
naas, palang kedua sudah tertutup. Kupingku bising, banayk orang berteriak,
“awas, awas, awas!” pekak sekali kupingku, ditambah suara klakson, “tin, tin,
tiiiiinnnnn!”
Cukup, suara-suara
itu membuatku pusing, inginku sandarkan badanku ketepi. Naas, sebelum ngegas
motorku, suara dekat sekali; kereta api. Berbaju besi nan berisi. Sungguh
pemandangan yang sempurna, aku tersenyum Indah padamu yang entah siapa di gerbang
depan. Lalu gelap seketika.
*
Aku berangkat kerja
jam tujuh pagi, menikmati angin yang berhembus menghunus dadaku. Motor butut
yang telah lama kumiliki, dan jarang sekali kuservis, menemaniku setiap pagi.
Lagi, angin menghunus dadaku. Aku harus cepat, kalau tidak aku terlambat masuk
kerja.
Jam setengah delapan
aku menunggu tukang kayu di depan gudang kayu milik keluargaku. Aku ingat mimpi
buruk semalam yang membuatku terbangun. Dalam mimpi itu aku mati tiga kali,
namun aku dapat hidup kembali, aneh, tapi aku merasa itu sangat nyata. Pada
intinya, mimpiku berpesan kematian bisa datang kapan saja, tanpa pernah manusia
tahu. Tak berselang lama dia datang dengan senyum masamnya. Kemudian aku pun
bergegas, melihat jam tangan yang kupakai, aku takut terlambat kerja.
Jam delapan kurang
lima belas menit, aku merasa tenang, masih banyak waktu sebelum satpam menutup
tempat kerjaku. Aku pun mengendarai dengan hati-hati, merasa bahagia akan
sampai ke kantor tepat waktu. Namun, sesuatu terjadi. Ban motorku pecah dipertangahan
jalan menuju kantor.
Aku merasa bersalah,
mengapa tak kupompa dulu sebelum berangkat. Aku pun menuntunnya. Jam delapan
lebih lima menit, aku merasa lelah dan frustasi. Aku kira hari ini akan sangat
membahagiakan, dengan awalan tidak terlambat ke tempat kerja. Tapi tak mengapa,
semua sudah ada jalannya.
Suara klakson keras
sekali, aku sempat kaget. Dan saat kulihat ke belakang, ada bis Eka dengan
kecepatan luar biasa, mungkin mengejar setoran, 100 meter tepat di belakangku.
Kulepas tangan dari stang, mencoba melompat ke tepi jalan dekat penjual bensin.
Naas, saat aku melompat, tetiba hitam semua, dan entah dimana.
Yogyakarta, Mei 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar