Halaman

Kamis, 01 Agustus 2019

Merpati yang Terbang Saat Purnama Bersinar


Image result for ilustrasi merpati
diambil dari Google.com
Aku seekor merpati yang hanya ingin terbang jika purnama bersinar. Minggu ini purnama akan sangat terang, dan aku belum tahu akan kemana. Aku hanya seekor merpati yang tidak pernah menetap selama lebih dari satu bulan. Itu semua karena aku akan terbang bebas tatkala purnama bersinar terang. Aku tidak pernah menetap untuk kedua kalinya dalam hidupku, itu adalah sebuah prinsip. Kedua orang tuaku, yang entah siapa, merpati peranakan asing atau pribumi aku tak tahu selalu mengajarkanku untuk hidup mandiri dan tidak tergantung pada merpati lain. Maka dari itu aku selalu terbang sendiri, mengikuti kata hatiku yang selalu dirundung rindu, karena harus terbang tatkala sinar rembulan terang, dan itu saat purnama bersinar, saat bulan bulat utuh tanpa dibuat-buat.
Bulan itu utuh biasanya dua hari dan aku selalu mencari tempat yang aku ingin kan, mencari tempat yang menurutku aman untuk selalu berkontemplasi ataupun merenungi tentang hidupku ke depan. Aku selalu sadar, hidupku tidak lama, palingan hanya beberapa tahun saja. Sejak kecil, orang tuaku yang selalu mencarikanku makan, membuatkanku sarang yang hangat, yang selalu melolohiku dengan cacing yang kadang ditemukannya ditanah, pergi tanpa alasan. Sejak kecil aku selalu bersama satu merpati yang membesarkanku, dialah yang kusebut orangtuaku, aku tidak tahu dia jantan atau betina, aku tidak peduli juga, pada intinya aku bisa merasakan kehangatan belaiannya saat kumembutuhkan. Namun suatu saat dia pergi tanpa alasan. Entah mati ditembak atau mati dimangsa hewan lain. Sejak saat itu aku sendiri, hingga sekarang. Aku terbang kemanapun aku suka, itu karena aku belajar terbang sendiri. Melelahkan memang, tapi aku harus bertahan, sebelum ajal menjelang. Toh hanya beberapa tahun aku sanggup hidup, tak lebih dari sepuluh tahun palingan.

Aku terbang saat purnama bersinar. Selebihnya aku diam dan mencari makan ditempatku bersarang. Aku terbang saat purnama bersinar. Karena aku dapat melihat sekelilingku dengan jelas tanpa aku harus menerawang.  Aku menikmatinya seperti menghirup udara pagi hari yang segar, tanpa polusi timbal. Aku terbang saat purnama bersinar. Dengan keyakinan hati kuterbang, mengepakkan sayapku, serupa elang yang akan memangsa ular ditanah, padahal aku ini merpati, dengan bulu putih berseri.
Aku bahagia bila ada purnama bersinar. Kepakan sayapku nampak ditanah dengan indah, berkibar layaknya bendera pusaka. Padahal aku tidak tahu itu bernama bendera, hanya kain berkibar di atas tiang pancang. Aku mampu terbang dua belas jam, tanpa berhenti, saat purnama bersinar. Setelah itu aku beristirahat tatkala mentari bersinar diufuk timur, dan kumenunggu lagi purnama untukku terbang, mencari suaka dan kebahagiaan. Seperti itu lah hidupku sebelum bertemu denganmu.
Saat itu aku baru saja berhenti disebuah atap rumah karena mentari dari ufuk timur sudah nampak. Saat kuberhenti, kupersiapkan segalanya untukku diam menunggu purnama bersinar berikutnya, tiba-tiba kamu juga datang, dan langsung menghampiriku. Aku tertegun, selama ini tidak pernah ada yang melihatku, apalagi menyapaku. Bulumu bewarna coklat, sungguh elok dipandang. Tak berselang lama, paruhmu menhantam paruhku, aku menggelinjang, terkaget namun menyenangkan. Aku tidak tahu siapa namamu. Aku tidak tahu darimana asalmu. Namun aku yakini, ini adalah sebuah pertemuan untuk sebual awalan. Aku terdiam setelah paruhmu berhenti, berganti tubuhmu duduk termangu menatapku sendu. Aku memang selalu sendiri, tapi dari tatapanmu, kamu meratapiku karena kesendirianku. Aku biasa sendiri, tapi itu tidak menjadi masalah besar bagiku, tapi berbeda denganmu, kamu menatapku sendu, seperti aku adalah merpati paling nestapa di dunia ini.
Setelah kamu memandangiku, dan paruhmu berhenti, kamu hanya mendekus dan langsung duduk di sebelahku. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa mengajakku bicara. Saat itu kamu hanya duduk termangu, menutup mata, dan entah kamu bermimpi apa. Aku melihatmu, dan ikut menutup mata, memimpikan kehangatan orangtuaku yang hilang entah kemana, tak pernah kembali lagi walau hanya sekedar menyapa.
Kepakan sayapmu terdengar, kubuka mata, kamu pergi mencari makan. Dibawa olehmu makanan yang kamu cari tadi lalu ditaruh dihadapanku. Kumakan dengan lahap tanpa basa-basi. Kamu memandangku, masih dengan perhatian saat pertama kali kamu melihatku, seakan-akan aku merpati paling sendu dikehidupan para merpati yang tak sampai sepuluh tahun. Setelah kumakan, kusisakan sedikit untukmu. Kamu hanya diam tanpa suara, tanpa bicara, tanpa berkata-kata, menutup mata, dan kembali bermimpi. Aku hanya seekor merpati nestapa, merindukan kebersamaan dari merpati lainnya, dan saat ini kutak lagi nestapa, ada kehangatan luar biasa. Kata orangtuaku, yang entah jantan atau betina itu, sepasang burung merpati memiki ikatan yang kuat dalam menjalin sebuah hubungan. Pada saat itu aku bermimpi ingin bersama orangtuaku, menjalin kasih, membuat ikatan kuat. Namun orangtuaku itu hilang entah kemana, mungkin sekarang menjadi tahi dipinggir kali, atau mungkin menjadi hantu yang mengikutiku kemanapun kupergi. Namun, saat ini berbeda, ada kehangatan yang kurasa, saat di sampingmu, tanpa suara, tanpa kata, dan tanpa bicara. Hangatnya seperti kehangatan orangtua yang entah jantan atau betina itu, jika di sampingku. Sesuatu yang kurindu kini kutemukan kembali.
Aku takut. Saat ini aku ketakutan menghadapi bulan purnama yang bersinar sekitar empat hingga lima hari lagi. Aku akan terbang ketika bulan purnama bersinar. Dan masih tanpa ada omongan denganmu, merpati di sebelahku. Aku takut akan pergi dari sini, meniggalkanmu sendiri. Aku perlu sesuatu yang menjadikan kita abadi. Bahkan jika itu mati. Aku ingin di sampingmu, mesti tak bernyawa lagi.
Satu hari lagi sebelum purnama bersinar terang. Izinkan aku mengutarakannya padamu. Aku sungguh ingin berada di sampingmu. Entah itu di sini, atau kamu ikut denganku terbang dikala bulan purnama bersinar terang, dan menetap disuatu tempat. Aku ingin mengatakan itu pada setelah kembalimu dari pencarian makanmu, yang akan dibawa kemari, lalu kamu serahkan makanan itu di depanku. Namun, kutunggu hingga purnama bersinar, kamu tak kunjung datang. Entah itu kamu menjadi tahi diemperan kali, atau pergi meninggalkanku sendiri.

Dibuat pada 11 Juni 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar