![]() |
| diambil dari Google.com |
Aku seekor merpati
yang hanya ingin terbang jika purnama bersinar. Minggu ini purnama akan sangat
terang, dan aku belum tahu akan kemana. Aku hanya seekor merpati yang tidak
pernah menetap selama lebih dari satu bulan. Itu semua karena aku akan terbang
bebas tatkala purnama bersinar terang. Aku tidak pernah menetap untuk kedua
kalinya dalam hidupku, itu adalah sebuah prinsip. Kedua orang tuaku, yang entah
siapa, merpati peranakan asing atau pribumi aku tak tahu selalu mengajarkanku
untuk hidup mandiri dan tidak tergantung pada merpati lain. Maka dari itu aku
selalu terbang sendiri, mengikuti kata hatiku yang selalu dirundung rindu,
karena harus terbang tatkala sinar rembulan terang, dan itu saat purnama
bersinar, saat bulan bulat utuh tanpa dibuat-buat.
Bulan itu utuh
biasanya dua hari dan aku selalu mencari tempat yang aku ingin kan, mencari
tempat yang menurutku aman untuk selalu berkontemplasi ataupun merenungi
tentang hidupku ke depan. Aku selalu sadar, hidupku tidak lama, palingan hanya
beberapa tahun saja. Sejak kecil, orang tuaku yang selalu mencarikanku makan,
membuatkanku sarang yang hangat, yang selalu melolohiku dengan cacing yang
kadang ditemukannya ditanah, pergi tanpa alasan. Sejak kecil aku selalu bersama
satu merpati yang membesarkanku, dialah yang kusebut orangtuaku, aku tidak tahu
dia jantan atau betina, aku tidak peduli juga, pada intinya aku bisa merasakan
kehangatan belaiannya saat kumembutuhkan. Namun suatu saat dia pergi tanpa
alasan. Entah mati ditembak atau mati dimangsa hewan lain. Sejak saat itu aku
sendiri, hingga sekarang. Aku terbang kemanapun aku suka, itu karena aku
belajar terbang sendiri. Melelahkan memang, tapi aku harus bertahan, sebelum
ajal menjelang. Toh hanya beberapa tahun aku sanggup hidup, tak lebih dari
sepuluh tahun palingan.
Aku terbang saat
purnama bersinar. Selebihnya aku diam dan mencari makan ditempatku bersarang. Aku
terbang saat purnama bersinar. Karena aku dapat melihat sekelilingku dengan
jelas tanpa aku harus menerawang. Aku
menikmatinya seperti menghirup udara pagi hari yang segar, tanpa polusi timbal.
Aku terbang saat purnama bersinar. Dengan keyakinan hati kuterbang, mengepakkan
sayapku, serupa elang yang akan memangsa ular ditanah, padahal aku ini merpati,
dengan bulu putih berseri.
Aku bahagia bila
ada purnama bersinar. Kepakan sayapku nampak ditanah dengan indah, berkibar
layaknya bendera pusaka. Padahal aku tidak tahu itu bernama bendera, hanya kain
berkibar di atas tiang pancang. Aku mampu terbang dua belas jam, tanpa
berhenti, saat purnama bersinar. Setelah itu aku beristirahat tatkala mentari
bersinar diufuk timur, dan kumenunggu lagi purnama untukku terbang, mencari
suaka dan kebahagiaan. Seperti itu lah hidupku sebelum bertemu denganmu.
Saat itu aku baru
saja berhenti disebuah atap rumah karena mentari dari ufuk timur sudah nampak.
Saat kuberhenti, kupersiapkan segalanya untukku diam menunggu purnama bersinar
berikutnya, tiba-tiba kamu juga datang, dan langsung menghampiriku. Aku
tertegun, selama ini tidak pernah ada yang melihatku, apalagi menyapaku. Bulumu
bewarna coklat, sungguh elok dipandang. Tak berselang lama, paruhmu menhantam
paruhku, aku menggelinjang, terkaget namun menyenangkan. Aku tidak tahu siapa
namamu. Aku tidak tahu darimana asalmu. Namun aku yakini, ini adalah sebuah
pertemuan untuk sebual awalan. Aku terdiam setelah paruhmu berhenti, berganti
tubuhmu duduk termangu menatapku sendu. Aku memang selalu sendiri, tapi dari
tatapanmu, kamu meratapiku karena kesendirianku. Aku biasa sendiri, tapi itu
tidak menjadi masalah besar bagiku, tapi berbeda denganmu, kamu menatapku
sendu, seperti aku adalah merpati paling nestapa di dunia ini.
Setelah kamu
memandangiku, dan paruhmu berhenti, kamu hanya mendekus dan langsung duduk di
sebelahku. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa mengajakku bicara. Saat itu kamu
hanya duduk termangu, menutup mata, dan entah kamu bermimpi apa. Aku melihatmu,
dan ikut menutup mata, memimpikan kehangatan orangtuaku yang hilang entah
kemana, tak pernah kembali lagi walau hanya sekedar menyapa.
Kepakan sayapmu
terdengar, kubuka mata, kamu pergi mencari makan. Dibawa olehmu makanan yang
kamu cari tadi lalu ditaruh dihadapanku. Kumakan dengan lahap tanpa basa-basi.
Kamu memandangku, masih dengan perhatian saat pertama kali kamu melihatku,
seakan-akan aku merpati paling sendu dikehidupan para merpati yang tak sampai
sepuluh tahun. Setelah kumakan, kusisakan sedikit untukmu. Kamu hanya diam
tanpa suara, tanpa bicara, tanpa berkata-kata, menutup mata, dan kembali
bermimpi. Aku hanya seekor merpati nestapa, merindukan kebersamaan dari merpati
lainnya, dan saat ini kutak lagi nestapa, ada kehangatan luar biasa. Kata
orangtuaku, yang entah jantan atau betina itu, sepasang burung merpati memiki
ikatan yang kuat dalam menjalin sebuah hubungan. Pada saat itu aku bermimpi
ingin bersama orangtuaku, menjalin kasih, membuat ikatan kuat. Namun orangtuaku
itu hilang entah kemana, mungkin sekarang menjadi tahi dipinggir kali, atau
mungkin menjadi hantu yang mengikutiku kemanapun kupergi. Namun, saat ini
berbeda, ada kehangatan yang kurasa, saat di sampingmu, tanpa suara, tanpa
kata, dan tanpa bicara. Hangatnya seperti kehangatan orangtua yang entah jantan
atau betina itu, jika di sampingku. Sesuatu yang kurindu kini kutemukan
kembali.
Aku takut. Saat
ini aku ketakutan menghadapi bulan purnama yang bersinar sekitar empat hingga
lima hari lagi. Aku akan terbang ketika bulan purnama bersinar. Dan masih tanpa
ada omongan denganmu, merpati di sebelahku. Aku takut akan pergi dari sini,
meniggalkanmu sendiri. Aku perlu sesuatu yang menjadikan kita abadi. Bahkan
jika itu mati. Aku ingin di sampingmu, mesti tak bernyawa lagi.
Satu hari lagi
sebelum purnama bersinar terang. Izinkan aku mengutarakannya padamu. Aku
sungguh ingin berada di sampingmu. Entah itu di sini, atau kamu ikut denganku
terbang dikala bulan purnama bersinar terang, dan menetap disuatu tempat. Aku
ingin mengatakan itu pada setelah kembalimu dari pencarian makanmu, yang akan
dibawa kemari, lalu kamu serahkan makanan itu di depanku. Namun, kutunggu
hingga purnama bersinar, kamu tak kunjung datang. Entah itu kamu menjadi tahi
diemperan kali, atau pergi meninggalkanku sendiri.
Dibuat
pada 11 Juni 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar