Halaman

Kamis, 19 Maret 2020

Yakin kah dirimu?


Aku terbangun pagi itu dengan keadaan kelimpungan tak tau dimana. Setelah sadar, aku ternyata di rumahku sendiri, di kamar sendiri, dan ternyata semalam aku hanya bermimpi, di antar oleh pangeranku, orang yang entah siapa, dengan senyum khasnya yang membuatku mabuk kepayang. Tersadar kenyataan ternyata hanya sebuah mimpi, aku pun duduk di samping kasur.

Kunyalakan sepuntung rokok merk luar negeri, kiriman temanku yang berada di luar Indonesia. Kuhisap aromanya, membuatku melayang karena dinginnya asap. Aku masih telanjang bulat, seperti pertama kali aku bangun. Ah, payudara kecil itu selalu menampakkan suatu keindahan yang tak kupercaya, membahagiakan saja bagiku.


Tak kecuali garis-garis pada paha atasku, bekas badanku yang dulu 80 Kg hingga sekarang sudah 60 Kg. Tinggiku yang tak seberapa, kira-kira 20 cm di bawah palang pintu rumah pada umumnya. Kurasa perawakanku sangat ideal bagi seorang wanita dewasa.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, dan langsung dibuka. Aku tak kaget, Nina biasanya memang seperti itu. Teman sedari aku merantau hingga sekarang, entah sampai kapan, mungkin saja aku tidak akan mau bertemu dengannya lagi, ketika dia bercinta dengan suamiku, mungkin saja. Atau aku masih mau bertemu dengannya jika dia melakukan hal itu padaku. Ah, lupakan, wanita bajingan itu selalu saja merepotkanku.

Dia biasa saja ketika aku masih telanjang, dan dia juga kadang seperti itu, bahkan saat ada suamiku. Jalang selalu ingin merasa bebas, berekspresi dan berkreasi. Katanya.

Dia lalu bercerita dengan gaya yang selalu saja ingin membuatku melemparkan bantal pada mukanya yang manja. Dia bercerita tentang salah satu orang yang kerja sebagai penyelenggara Pemilihan Umum di Kabupaten tempat kami bermukim, dan tentu saja sudah beristri, bahkan kemarin malam tidur dengannya di salah satu hotel berbintang empat. Ah, jalang.

Dia melanjutkan, orang itu ingin bertemu denganku. Aku kaget. Untuk apa dia ingin bertemu denganku, dalam hati. Ternyata orang itu ingin tidur denganku, bahkan dibayar dua kali lipat dari Nina. Kami memang jalang, dan kami butuh uang untuk hidup keluarga kami di desa.
Ah anjing, babi, manusia apa binatang dia itu, aku bergemam.

Aku tertawa mendengar akhir ceritanya. Aku pun mengamini permintaannya. Nina memberikan nomorku agar dihubungi oleh Pak tua brengsek itu, dan kami menyebutnya Babi. Ya karena badan dan sikapnya seperti babi, pikir kami dulu saat Nina diajak berkenalan di salah satu club malam.

Aku dihubungi pada hari berikutnya. Babi memintaku untuk menyusulnya di hotel bintang lima dengan nomor kamar 812.

Aku pun menyusulnya dengan membawa perlengkapan yang sudah kusiapkan pagi tadi. Kupencet bel, dan dia membukakan pintu. Dengan senyum seperti anjing, Babi mempersilahkanku masuk. Dengan senyum seadanya aku pun masuk.
Basa-basi dijalankan sedemikian rupa, hingga maksud asli manusia biadab ini pun diungkapkan.

Dia mulai meraba rambutku, ke bawah. Aku pun menggelinjang, Babi!

Orang paruh baya ini membuatku bersemangat. Dia pun mengodeku dengan dia terlentang di tempat tidur.

Aku memberitahunya untuk bersiap, aku mengambil peralatanku terlebih dahulu di tas. Tanpa basa-basi, kusabet lehernya dengan pisau yang pagi tadi kubeli di pasar.

Darah muncrat, diiringi dengan nyanyian pilu, penyesalannya telah mengajakku. Keesokkan harinya aku membaca surat kabar daring; ditemukan mayat salah satu pimpinan penyelenggara Pemilihan Umum daerah di hotel bintang lima.                  


Yogyakarta, Maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar