Aku terbangun pagi itu
dengan keadaan kelimpungan tak tau dimana. Setelah sadar, aku ternyata di
rumahku sendiri, di kamar sendiri, dan ternyata semalam aku hanya bermimpi, di
antar oleh pangeranku, orang yang entah siapa, dengan senyum khasnya yang
membuatku mabuk kepayang. Tersadar kenyataan ternyata hanya sebuah mimpi, aku
pun duduk di samping kasur.
Kunyalakan sepuntung rokok
merk luar negeri, kiriman temanku yang berada di luar Indonesia. Kuhisap
aromanya, membuatku melayang karena dinginnya asap. Aku masih telanjang bulat,
seperti pertama kali aku bangun. Ah, payudara kecil itu selalu menampakkan
suatu keindahan yang tak kupercaya, membahagiakan saja bagiku.
Tak kecuali garis-garis pada
paha atasku, bekas badanku yang dulu 80 Kg hingga sekarang sudah 60 Kg. Tinggiku
yang tak seberapa, kira-kira 20 cm di bawah palang pintu rumah pada umumnya. Kurasa
perawakanku sangat ideal bagi seorang wanita dewasa.
Tiba-tiba pintu kamarku
diketuk, dan langsung dibuka. Aku tak kaget, Nina biasanya memang seperti itu.
Teman sedari aku merantau hingga sekarang, entah sampai kapan, mungkin saja aku
tidak akan mau bertemu dengannya lagi, ketika dia bercinta dengan suamiku,
mungkin saja. Atau aku masih mau bertemu dengannya jika dia melakukan hal itu
padaku. Ah, lupakan, wanita bajingan itu selalu saja merepotkanku.
Dia biasa saja ketika aku masih
telanjang, dan dia juga kadang seperti itu, bahkan saat ada suamiku. Jalang
selalu ingin merasa bebas, berekspresi dan berkreasi. Katanya.
Dia lalu bercerita dengan
gaya yang selalu saja ingin membuatku melemparkan bantal pada mukanya yang
manja. Dia bercerita tentang salah satu orang yang kerja sebagai penyelenggara
Pemilihan Umum di Kabupaten tempat kami bermukim, dan tentu saja sudah
beristri, bahkan kemarin malam tidur dengannya di salah satu hotel berbintang
empat. Ah, jalang.
Dia melanjutkan, orang itu
ingin bertemu denganku. Aku kaget. Untuk apa dia ingin bertemu denganku, dalam
hati. Ternyata orang itu ingin tidur denganku, bahkan dibayar dua kali lipat
dari Nina. Kami memang jalang, dan kami butuh uang untuk hidup keluarga kami di
desa.
Ah anjing, babi, manusia apa
binatang dia itu, aku bergemam.
Aku tertawa mendengar akhir ceritanya.
Aku pun mengamini permintaannya. Nina memberikan nomorku agar dihubungi oleh
Pak tua brengsek itu, dan kami menyebutnya Babi. Ya karena badan dan sikapnya
seperti babi, pikir kami dulu saat Nina diajak berkenalan di salah satu club
malam.
Aku dihubungi pada hari
berikutnya. Babi memintaku untuk menyusulnya di hotel bintang lima dengan nomor
kamar 812.
Aku pun menyusulnya dengan
membawa perlengkapan yang sudah kusiapkan pagi tadi. Kupencet bel, dan dia
membukakan pintu. Dengan senyum seperti anjing, Babi mempersilahkanku masuk.
Dengan senyum seadanya aku pun masuk.
Basa-basi dijalankan
sedemikian rupa, hingga maksud asli manusia biadab ini pun diungkapkan.
Dia mulai meraba rambutku,
ke bawah. Aku pun menggelinjang, Babi!
Orang paruh baya ini
membuatku bersemangat. Dia pun mengodeku dengan dia terlentang di tempat tidur.
Aku memberitahunya untuk
bersiap, aku mengambil peralatanku terlebih dahulu di tas. Tanpa basa-basi,
kusabet lehernya dengan pisau yang pagi tadi kubeli di pasar.
Yogyakarta, Maret 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar