![]() |
| Foto diambil dari Google |
Buku karya Ayu Utami, salah
satu penulis fenomenal asal Indonesia. Berkiprah menjadi penulis sastra tatkala
para jurnalis tersudut oleh Orde Baru yang diktaktor, suka membredeli media
cetak yang bertentangan dengannya, ironi bukan? Saat itu lah sastra bicara!
Saman, berkisah tentang
pemuda yang memilih jalan terjal, seorang pastor yang secara nyata melihat
keadaan realitas yang bertolak belakang dari kehidupan yang adem ayem. Gejolak
yang nyata dalam keadaan masyarakat pedalaman, penggusuran yang dilakukan
dengan sewenang-wenang oleh Pemerintah yang bercumbu mesra dengan para pemilik
modal. Tatkala penguasa mutlak (Negara) telah bersenggama dengan pemilik modal,
di sana lah orang-orang fakir miskin tak berdaya melawannya.
Penduduk asli hanya diberi
kertas kosong untuk ditandatangani, ternyata itu dibuat sedemikian rupa dengan
dalih kerjasama, namun hak atas tanahnya diambil alih. Ah! Persetan. Di situ
lah peran Saman, yang sebenarnya adalah nama baru, yang lama dibuang.
Perjuangan tiada henti, meski hampir mati, hingga tak sadarkan diri, dikurung
dalam gedung yang entah dimana, meski bebas saat gedung itu terlalap api. Dan
bertemulah Saman dengan teman-temannya.
Dibantu oleh teman SMP;
Layla, Cok, Yasmin, dan Shakuntala, Saman pergi ke luar negeri, mencari
keamanan diri dan membangun relasi dikarenakan dia dituduh biang keladi sebagai
subversi!
Pada awal cerita bukan Saman
tokoh utama, melainkan Sigar, pujaan hati Layla. Namun berjalannya waktu, Sigar
dipertemukan oleh Saman, seorang aktivis, guna menjebloskan mantan bosnya ke
penjara.
Buku yang mempunyai kompleksitas
tinggi, dari seksualitas, budaya, teknologi, teologi, perlawanan akan
penindasan, romansa, bercampur aduk menjadi hidangan yang sangat lezat. Tidak
perlu ragu untuk membacanya, hanya 200an halaman, yang bahkan bisa selesai
dalam satu hari saja.
Yogyakarta, April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar