![]() |
| diambil dari Google |
Judul
buku : Bumi Manusia
Pengarang
: Pramoerdya Ananta Toer
Penerbit
: Lentera Dipantara
Tahun
Terbit : 2011
Kota
terbit : Jakarta
Jumlah
Hal. : 535
Buku ini
digarap saat masa pembuangannya di Pulau Buru. Yang menghasilkan
Tretalogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).
Pembuangannya dikarenakan Pram dituduh ikut atau berideologi komunis. Dan
memang bertepatan dengan masa Orde Baru yang katanya “dikuasai” oleh Soeharto.
Masa itu juga yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam ideologi
komunis sangatlah didiskriminasi. Seperti contoh keturunan dari anggota komunis
dilarang keras masuk dalam Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dan ternyata Ideologi
Komunis berkembang pesat karena ideologi ini (selain Nasionalisme) menentang
yang namanya kolonialisme. Secara langsung memang kita harus berterimakasih
karena pada saat kolonialisme Belanda maupun Jepang, Ideologi ini sangatlah
kentara perlawanannya. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata ideologi ini
sangatlah berbahaya jika dibiarkan hidup (walaupun berkontradiksi dengan asa
demokrasi) di Indonesia. Karena terbilang kebanyakan bersifat anarkis. Dalam
arti merusak.
Buku yang sangat sarat akan pergolakan
emosi. Bagaimana Pram ini mengajak para pembaca untuk bergerak melawan apapun
yang menindas. Cerita sisi lain dari cikal bakal terbentuknya sebuah negara,
yaitu, INDONESIA. Pram sangat imaginatif dengan menceritakan sejarah negara
besar secara berbeda, tidak hanya seperti buku sejarah sekolahan yang
membacanya monoton. Sedangkan dengan membaca roman ini, pembaca serasa
melakukan apa yang sedang dilakukan oleh sang tokoh. Pembaca diajak
berpetualang mencari semboyan Revolusi Prancis –Kebebasan, Persatuan,
Persaudaraan-di negeri sendiri yang sedang dalam komando penjajah.
Berawal dari Minke (tokoh utama) diajak
oleh teman sekolah di H.B.S. Robert Suurhof untuk datang ke rumah seorang Nyai
(Gudik Indo atau Totok) yang bernama Nyai Ontosoroh dan ditemani oleh anaknya
Annelies. Seiring berjalannya waktu ternyata tumbuh benih – benih cinta
diantara Minke dan Annelies. Sahabat Minke bernama Jan Marais pernah berkata
padanya ”Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran,
apalagi dalam perbuatan”. Sahabat yang selalu menemani Minke untuk sekedar
bercerita tentang apa yang namannya cinta, walaupun Marais terbilang difabel
karena perang dengan Aceh dulu, dan itu terjadi saat dia masih menjadi prajurit
Prancis.
Sembari Minke melanjutkan sekolahnya,
berpindahlah dia dari rumah kontrakan ke rumah Nyai Ontosoroh. Dan itu atas
permintaan Annelies. Minke mungkin pribumi yang sangat berbeda dengan pribumi
lainnya, terutama tentang pemikirannya. Dia menganut paham Revolusi Prancis
-Kebebasan, Persatuan, Persaudaraan-. Dia berkeinginan agar manusia pribumi,
Indo dan Totok sederajat. Dengan menganggap Nyai adalah gurunya (yang memang
Nyai lancar berbahasa Belanda, Pribumi dan mempunyai analisis yang bagus). Dari
awal memang dia suka menulis, kadang – kadang dia mengirim tulisannya ke media
dengan nama pena Max Tollenaar. Dia sangat suka menjadi murid Nyai, dalam hati
Minke berseru “Dia berani menyatakan pendapat! Sekalipun belum tentu benar. Dia
tak takut pada kekeliruan. Tabah, Berani belajar dari kesalahan sendiri.”
Setelah lulus dari H.B.S. Minke dan Annelies
menikah. Mereka sangat bahagia, pesta yang sangat besar diselenggarakan. Karena
Herman Mellema (Tuan Nyai) meninggal, Robert Mellema dan Annelies diambil wali
oleh Ir. Marait (anak dari Istri Tuan Mellema yang sah). Karena sangat emosi,
Nyai dan Minke menantang Pengadilan Putih (di Nederland) yang mana itu adalah
pengadilan tertinggi di Nederland. Perlawanan dengan membuat tulisan pembelaan
untuk Annelies, yang dicetak dalam suratkabar. Sempat ada bantuan pengacara
dari Surabaya, namun setelah beberapa hari melihat – lihat perbandingan,
bagaimana jika mereka melawan Pengadilan Putih. Tetapi tak berselang lama,
pengacara itu pulang kembali ke surabaya karena sudah tau pasti bakal kalah.
Dan benar adanaya, kalah, akhirnya Annelies dibawa ke Nederland. Sebelum
berangkat Annelies menyuapi sang suami dengan beberapa sendok.
Yogyakarta, Juni 2014 (tanpa diedit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar