Halaman

Selasa, 28 April 2020

Bumi Manusia - Pramoerdya Ananta Toer

diambil dari Google
Judul buku      : Bumi Manusia
Pengarang       : Pramoerdya Ananta Toer
Penerbit           : Lentera Dipantara
Tahun Terbit    : 2011
Kota terbit       : Jakarta
Jumlah Hal.     : 535

Buku ini  digarap saat masa pembuangannya di Pulau Buru. Yang menghasilkan Tretalogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca). Pembuangannya dikarenakan Pram dituduh ikut atau berideologi komunis. Dan memang bertepatan dengan masa Orde Baru yang katanya “dikuasai” oleh Soeharto. Masa itu juga yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam ideologi komunis sangatlah didiskriminasi. Seperti contoh keturunan dari anggota komunis dilarang keras masuk dalam Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dan ternyata Ideologi Komunis berkembang pesat karena ideologi ini (selain Nasionalisme) menentang yang namanya kolonialisme. Secara langsung memang kita harus berterimakasih karena pada saat kolonialisme Belanda maupun Jepang, Ideologi ini sangatlah kentara perlawanannya. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata ideologi ini sangatlah berbahaya jika dibiarkan hidup (walaupun berkontradiksi dengan asa demokrasi) di Indonesia. Karena terbilang kebanyakan bersifat anarkis. Dalam arti merusak.

Buku yang sangat sarat akan pergolakan emosi. Bagaimana Pram ini mengajak para pembaca untuk bergerak melawan apapun yang menindas. Cerita sisi lain dari cikal bakal terbentuknya sebuah negara, yaitu, INDONESIA. Pram sangat imaginatif dengan menceritakan sejarah negara besar secara berbeda, tidak hanya seperti buku sejarah sekolahan yang membacanya monoton. Sedangkan dengan membaca roman ini, pembaca serasa melakukan apa yang sedang dilakukan oleh sang tokoh. Pembaca diajak berpetualang mencari semboyan Revolusi Prancis –Kebebasan, Persatuan, Persaudaraan-di negeri sendiri yang sedang dalam komando penjajah.
Berawal dari Minke (tokoh utama) diajak oleh teman sekolah di H.B.S. Robert Suurhof untuk datang ke rumah seorang Nyai (Gudik Indo atau Totok) yang bernama Nyai Ontosoroh dan ditemani oleh anaknya Annelies. Seiring berjalannya waktu ternyata tumbuh benih – benih cinta diantara Minke dan Annelies. Sahabat Minke bernama Jan Marais pernah berkata padanya ”Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Sahabat yang selalu menemani Minke untuk sekedar bercerita tentang apa yang namannya cinta, walaupun Marais terbilang difabel karena perang dengan Aceh dulu, dan itu terjadi saat dia masih menjadi prajurit Prancis.
Sembari Minke melanjutkan sekolahnya, berpindahlah dia dari rumah kontrakan ke rumah Nyai Ontosoroh. Dan itu atas permintaan Annelies. Minke mungkin pribumi yang sangat berbeda dengan pribumi lainnya, terutama tentang pemikirannya. Dia menganut paham Revolusi Prancis -Kebebasan, Persatuan, Persaudaraan-. Dia berkeinginan agar manusia pribumi, Indo dan Totok sederajat. Dengan menganggap Nyai adalah gurunya (yang memang Nyai lancar berbahasa Belanda, Pribumi dan mempunyai analisis yang bagus). Dari awal memang dia suka menulis, kadang – kadang dia mengirim tulisannya ke media dengan nama pena Max Tollenaar. Dia sangat suka menjadi murid Nyai, dalam hati Minke berseru “Dia berani menyatakan pendapat! Sekalipun belum tentu benar. Dia tak takut pada kekeliruan. Tabah, Berani belajar dari kesalahan sendiri.”

Setelah lulus dari H.B.S. Minke dan Annelies menikah. Mereka sangat bahagia, pesta yang sangat besar diselenggarakan. Karena Herman Mellema (Tuan Nyai) meninggal, Robert Mellema dan Annelies diambil wali oleh Ir. Marait (anak dari Istri Tuan Mellema yang sah). Karena sangat emosi, Nyai dan Minke menantang Pengadilan Putih (di Nederland) yang mana itu adalah pengadilan tertinggi di Nederland. Perlawanan dengan membuat tulisan pembelaan untuk Annelies, yang dicetak dalam suratkabar. Sempat ada bantuan pengacara dari Surabaya, namun setelah beberapa hari melihat – lihat perbandingan, bagaimana jika mereka melawan Pengadilan Putih. Tetapi tak berselang lama, pengacara itu pulang kembali ke surabaya karena sudah tau pasti bakal kalah. Dan benar adanaya, kalah, akhirnya Annelies dibawa ke Nederland. Sebelum berangkat Annelies menyuapi sang suami dengan beberapa sendok.

Yogyakarta, Juni 2014 (tanpa diedit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar