Halaman

Minggu, 03 Mei 2020

Inside Out - Film

gambar diambil dari Google

Barangkali manusia hidup hanya akan ada kesedihan. Entah itu perpisahan, kesendirian,  atau kesedihan lainnya. Kesedihan yang selalu menghantui tiap manusia, barangkali seperti kata Dr. Hiluluk dari cerita One Piece:

“Kapan manusia mati? Saat jantung tertembus peluru? Bukan. Saat terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan? Bukan. Saat makan jamur beracun? Juga bukan!
Manusia mati… saat Ia dilupakan. Meskipun aku mati, impianku akan tetap hidup. Dan hati negeri yang sakit ini pun akan tersembuhkan.”

Itu lah awal-awal cerita dalam film yang rilis tahun 2015 kemarin; Inside Out. Sedih selalu saja ingin memegang kunci kehidupan, bahkan tanpa Ia sadari.


Relay, gadis kecil yang baru saja menapaki kehidupan, dan dalam pikirannya ternyata diperkenalkan lima sosok makhluk rasa; Bahagia, Sedih, Takut, Marah, dan Jijik. Mereka berkolaborasi dalam pikirannya, pun juga setiap manusia mempunyai makhluk rasa itu.

Mereka adalah manifestasi dalam pikiran kita. Tidak hanya berkolaborasi, namun mereka penuh dengan pergolakan. Barangkali itu lah yang menyebabkan keputusan-keputusan yang kita ambil kadang tidak masuk logika. Kita terjebak dalam pertengkaran abadi mereka, terus menerus selama kita hidup.

Film bercerita tentang Bahagia dan Sedih yang bertualang ingin kembali ke pusat pikiran, namun dalam petualangan tersebut menyadarkan Bahagia bahwa sebuah kehidupan tidak hanya untuk menjadi Bahagia saja. Sedih berperan besar dalam perjalanan kembali ke pusat, setelah kesombongan dari Bahagia mereda.

Mereka akhirnya kembali dan mampu mengembalikan kondisi psikologi Relay seperti semula, pun berkat Sedih, karena hidup harus seimbang, dan sedih sebagai penawar.

Aku jadi ingat masa kecilku hingga saat ini, keputusan-keputusan yang aku ambil ternyata bisa kita andaikan seperti itu: pergolakan antara makhluk-makhluk rasa penghuni otak. Mungkin saat diminta mengambil keputusan, mereka bertempur pendapat bahkan sampai adu jotos untuk menentukan kaputusan. Itu pun jika punya otak, bukan? 
 
Yogyakarta, April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar