Halaman

Rabu, 31 Juli 2019

Gadis Pemetik Daun Teh

Image result for daun teh
diambil dari Google.com
Selepas subuh, para petani sudah hilir mudik mengitari daerah pegunungan Temanggung. Dikaki Gunung Sindoro, cahaya matahari belum menusuk tanah, masih tertutup dengan tebalnya kabut. Rumah-rumah masih diterangi dengan lampu dian –gabungan antara botol, sumbu, dan minyak. Banyak di antaranya masih gelap, dan hanya dengan sinar matahari menjadi terang. Rumah-rumah itu masih semi permanen, di bawah menggunakan batu tapi atasnya menggunakan anyaman bambu. Terkadang, jika ada badai besar, rumah bisa hancur dan terhanyut arus badai.
Seorang gadis bernama Surtinem, anak seorang petani kebun teh, meneruskan pekerjaan orangtuanya. Orangtua Surtinem hanya menjadi buruh juragan teh, setiap hari ke kebun teh untuk menggarapnya. Surtinem menggikuti jejak orangtuanya sejak berumur 14 tahun. Surtinem mempunyai dua adik perempuan, Tinah dan Tini, masing-masing berumur delapan dan enam tahun. Saat Surtinem berumur dua puluh tahun, bapaknya menghilang tanpa jejak, tanpa kabar dan sejak saat itu semua berubah, desa tersebut menjadi berantakan dan kacau.
Surtinem disiksa, tangannya diikat menggantung, kakinya diikat dengan besi di sampingnya. Dia dicerca banyak pertanyaan. Mulai dari orangtuanya, adik-adiknya, bahkan saudara-saudaranya. Surtinem sudah menjawab dengan jujur, namun tetap saja, orang-orang itu tidak percaya, dia dikira berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Surtinem bahkan menjadi bulan-bulanan warga sebelah desa, dia disiksa dengan sadisnya. Rumahnya dibakar. Keluarganya entah dibawa kemana. Di gudang itu dia sendirian dan dikelilingi oleh banyak pria bertubuh tinggi dan besar. Wajah cantik Surtinem tercoreng oleh darah yang keluar dari mulut serta hidungnya. Tubuhnya tidak mampu menahan siksaan tersebut.
“rugi le ayu, koe ki cen asu, uripmu ming nggo abang!” kata salah satu pria itu dengan nada yang sangat tinggi serta menudingkan jari telunjuknya sambil menampar pipinya. Pria yang lain hanya memandang sambil tertawa marah pada Surtinem. Entah apa yang membuat mereka sangat marah pada Surtinem, terlebih lagi ketika bapaknya disebut oleh mereka.
“Bapakmu ki kirik tenan, mateni sedulur-sedulurku!” tamparan keras mengenai pipinya. Surtinem hanya menangis, dia tak percaya dengan semua omong kosong yang mereka bicarakan.
Surtinem teringat masa-masa silam saat desanya nyaman tentram. Bapaknya yang santun, mampu bergaul dengan siapa saja, menjadikan rumahnya selalu ramai dikunjungi teman-teman bapaknya. Bahkan pernah ada yang menginap selama seminggu lamanya. Surtinem hanya seorang anak kecil waktu itu, dia hanya membantu ibunya untuk menyiapkan semua perlengkapan dan makanan bagi keluarga maupun teman-teman bapaknya. Setiap pagi Surtinem membantu orangtuanya memetik daun teh yang telah bagus, yang sudah pantas untuk dijual. Dari situlah penghidupan keluarga Surtinem, terkadang bapaknya pergi ke luar kota untuk mencari penghasilan tambahan, dan itu biasanya dijemput temannya.
Pada saat itu, desanya sangat nyaman, tetangga-tetangganya sangat ramah terhadap keluarga Surtinem. Bapaknya bernama Tejo, dia sangat dihormati oleh seluruh desa. Pak Tejo merupakan penggerak perekonomian desa tersebut, dia sering berbagi pengalaman ke desa seberang, bahkan sering melakukan mobilisasi untuk kesejahteraan sosial desa dengan cara mengarahkan warganya terkait dengan kepemilikan bersama.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, kita ini sama, kita adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita harus saling membantu. Jika kita mendapat rezeki lebih, ingatlah saudara-saudara kita yang sedang kesusahan. Ini semua –materi, adalah titipan dari Tuhan, oleh karena itu, jangan risau ketika kita membagi hasil yang kita dapatkan untuk saudara kita yang kekurangan.” Kata tetangga yang bercerita tentang bapaknya.
Surtinem melewati hari dengan bahagia bersama keluarganya, hingga suatu ketika datang hari itu, para tetangga desa menyerang rumahnya, membakar, dan memisahkan keluarga tersebut dengan paksa. Saat itu Surtinem bersembunyi dengan adik-adiknya di bawah kolong kasur kamarnya. Tanpa sadar, kakinya ditarik dari belakang oleh warga yang menyerang. Mereka dipaksa keluar, dan itulah tatapan mata terakhir mereka. Surtinem menagis merengek saat dipisahkan oleh keluarganya. Setelah dibawa keluar, dia melihat rumahnya dibakar. Bapak dan ibunya sedari pagi memang tidak di rumah, katanya mereka pergi kekebun teh tapi belum pulang hingga sore saat warga menyerbu rumahnya. Surtinem menangis, takut kalau adik-adiknya masih di dalam dan dibakar hidup-hidup. Akhirnya Surtinem tak sadarkan diri.
Saat terbangun, Surtinem berada di sebuah ruangan, seperti gudang. Dia sadar kalau dirinya terikat, hanya mampu meronta, mulutnya ditutup kain. Setelah tersadar, kain tersebut dilepas oleh seseorang yang memakai baju loreng. Surtinem melihat kalender di samping meja gudang itu, saat itu dua Oktober 1965.
“Apa salahku? apa salah bapakku? Apa salah keluargaku? Mengapa aku diperlakukan seperti ini?” teriak Surtinem kepada seseorang yang melepas kain dari mulutnya.
“bapakmu itu telah berkomplot dengan para pemberontak untuk menggulingkan Presiden!” jawab ketus seseeorang dari mereka. Surtinem tetap tidak percaya walaupun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini bapaknya baik kepada semua warga desa, memberikan bantuan semaksimal mungkin, dan tidak terlihat sedikit pun akan ada kemungkarannya pada negara tercintanya ini. Pak Tejo bahkan selalu menanamkan rasa cinta terhadap negara kepada anak-anaknya.
“woi! Jawab jujur, dimana bapakmu! Siapa saja temannya yang datang menginap belakangan ini!” suara keras salah satu dari mereka.

Erangan keras meraung dari mulut Surtinem. Menahan tangis serta sakit karena dipahanya ditusuk pisau belati. Darah menetes deras kelantai. “Tuhan, aku ingin tidur.” Batin Surtinem.

Pernah diterbitkan oleh Gagasfisipol.blogspot.com pada 29 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar