| diambil dari Google.com |
Selepas subuh, para petani sudah hilir mudik mengitari
daerah pegunungan Temanggung. Dikaki Gunung Sindoro, cahaya matahari belum
menusuk tanah, masih tertutup dengan tebalnya kabut. Rumah-rumah masih
diterangi dengan lampu dian –gabungan antara botol, sumbu, dan minyak. Banyak
di antaranya masih gelap, dan hanya dengan sinar matahari menjadi terang.
Rumah-rumah itu masih semi permanen, di bawah menggunakan batu tapi atasnya
menggunakan anyaman bambu. Terkadang, jika ada badai besar, rumah bisa hancur
dan terhanyut arus badai.
Seorang gadis bernama Surtinem, anak seorang petani
kebun teh, meneruskan pekerjaan orangtuanya. Orangtua Surtinem hanya menjadi
buruh juragan teh, setiap hari ke kebun teh untuk menggarapnya. Surtinem
menggikuti jejak orangtuanya sejak berumur 14 tahun. Surtinem mempunyai dua
adik perempuan, Tinah dan Tini, masing-masing berumur delapan dan enam tahun.
Saat Surtinem berumur dua puluh tahun, bapaknya menghilang tanpa jejak, tanpa
kabar dan sejak saat itu semua berubah, desa tersebut menjadi berantakan dan
kacau.
Surtinem disiksa, tangannya diikat menggantung,
kakinya diikat dengan besi di sampingnya. Dia dicerca banyak pertanyaan. Mulai
dari orangtuanya, adik-adiknya, bahkan saudara-saudaranya. Surtinem sudah
menjawab dengan jujur, namun tetap saja, orang-orang itu tidak percaya, dia
dikira berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Surtinem bahkan menjadi
bulan-bulanan warga sebelah desa, dia disiksa dengan sadisnya. Rumahnya
dibakar. Keluarganya entah dibawa kemana. Di gudang itu dia sendirian dan
dikelilingi oleh banyak pria bertubuh tinggi dan besar. Wajah cantik Surtinem
tercoreng oleh darah yang keluar dari mulut serta hidungnya. Tubuhnya tidak
mampu menahan siksaan tersebut.
“rugi
le ayu, koe ki cen asu, uripmu ming nggo abang!” kata salah satu pria itu dengan nada yang sangat
tinggi serta menudingkan jari telunjuknya sambil menampar pipinya. Pria yang
lain hanya memandang sambil tertawa marah pada Surtinem. Entah apa yang membuat
mereka sangat marah pada Surtinem, terlebih lagi ketika bapaknya disebut oleh
mereka.
“Bapakmu
ki kirik tenan, mateni sedulur-sedulurku!” tamparan keras mengenai pipinya. Surtinem hanya
menangis, dia tak percaya dengan semua omong kosong yang mereka bicarakan.
Surtinem teringat masa-masa silam saat desanya nyaman
tentram. Bapaknya yang santun, mampu bergaul dengan siapa saja, menjadikan
rumahnya selalu ramai dikunjungi teman-teman bapaknya. Bahkan pernah ada yang
menginap selama seminggu lamanya. Surtinem hanya seorang anak kecil waktu itu,
dia hanya membantu ibunya untuk menyiapkan semua perlengkapan dan makanan bagi
keluarga maupun teman-teman bapaknya. Setiap pagi Surtinem membantu orangtuanya
memetik daun teh yang telah bagus, yang sudah pantas untuk dijual. Dari situlah
penghidupan keluarga Surtinem, terkadang bapaknya pergi ke luar kota untuk
mencari penghasilan tambahan, dan itu biasanya dijemput temannya.
Pada saat itu, desanya sangat nyaman,
tetangga-tetangganya sangat ramah terhadap keluarga Surtinem. Bapaknya bernama
Tejo, dia sangat dihormati oleh seluruh desa. Pak Tejo merupakan penggerak
perekonomian desa tersebut, dia sering berbagi pengalaman ke desa seberang, bahkan
sering melakukan mobilisasi untuk kesejahteraan sosial desa dengan cara
mengarahkan warganya terkait dengan kepemilikan bersama.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, kita ini sama, kita adalah
manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita harus saling
membantu. Jika kita mendapat rezeki lebih, ingatlah saudara-saudara kita yang
sedang kesusahan. Ini semua –materi, adalah titipan dari Tuhan, oleh karena
itu, jangan risau ketika kita membagi hasil yang kita dapatkan untuk saudara
kita yang kekurangan.” Kata tetangga yang bercerita tentang bapaknya.
Surtinem melewati hari dengan bahagia bersama
keluarganya, hingga suatu ketika datang hari itu, para tetangga desa menyerang
rumahnya, membakar, dan memisahkan keluarga tersebut dengan paksa. Saat itu
Surtinem bersembunyi dengan adik-adiknya di bawah kolong kasur kamarnya. Tanpa
sadar, kakinya ditarik dari belakang oleh warga yang menyerang. Mereka dipaksa
keluar, dan itulah tatapan mata terakhir mereka. Surtinem menagis merengek saat
dipisahkan oleh keluarganya. Setelah dibawa keluar, dia melihat rumahnya
dibakar. Bapak dan ibunya sedari pagi memang tidak di rumah, katanya mereka
pergi kekebun teh tapi belum pulang hingga sore saat warga menyerbu rumahnya.
Surtinem menangis, takut kalau adik-adiknya masih di dalam dan dibakar
hidup-hidup. Akhirnya Surtinem tak sadarkan diri.
Saat terbangun, Surtinem berada di sebuah ruangan,
seperti gudang. Dia sadar kalau dirinya terikat, hanya mampu meronta, mulutnya
ditutup kain. Setelah tersadar, kain tersebut dilepas oleh seseorang yang
memakai baju loreng. Surtinem melihat kalender di samping meja gudang itu, saat
itu dua Oktober 1965.
“Apa salahku? apa salah bapakku? Apa salah keluargaku?
Mengapa aku diperlakukan seperti ini?” teriak Surtinem kepada seseorang yang
melepas kain dari mulutnya.
“bapakmu itu telah berkomplot dengan para pemberontak
untuk menggulingkan Presiden!” jawab ketus seseeorang dari mereka. Surtinem
tetap tidak percaya walaupun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selama
ini bapaknya baik kepada semua warga desa, memberikan bantuan semaksimal
mungkin, dan tidak terlihat sedikit pun akan ada kemungkarannya pada negara
tercintanya ini. Pak Tejo bahkan selalu menanamkan rasa cinta terhadap negara
kepada anak-anaknya.
“woi! Jawab jujur, dimana bapakmu! Siapa saja temannya
yang datang menginap belakangan ini!” suara keras salah satu dari mereka.
Erangan keras meraung dari mulut Surtinem. Menahan
tangis serta sakit karena dipahanya ditusuk pisau belati. Darah menetes deras
kelantai. “Tuhan, aku ingin tidur.” Batin Surtinem.
Pernah diterbitkan oleh Gagasfisipol.blogspot.com pada 29 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar