| diambil dari Google.com |
Selepas subuh, para petani sudah hilir mudik mengitari
daerah pegunungan Temanggung. Dikaki Gunung Sindoro, cahaya matahari belum
menusuk tanah, masih tertutup dengan tebalnya kabut. Rumah-rumah masih
diterangi dengan lampu dian –gabungan antara botol, sumbu, dan minyak. Banyak
di antaranya masih gelap, dan hanya dengan sinar matahari menjadi terang.
Rumah-rumah itu masih semi permanen, di bawah menggunakan batu tapi atasnya
menggunakan anyaman bambu. Terkadang, jika ada badai besar, rumah bisa hancur
dan terhanyut arus badai.
Seorang gadis bernama Surtinem, anak seorang petani
kebun teh, meneruskan pekerjaan orangtuanya. Orangtua Surtinem hanya menjadi
buruh juragan teh, setiap hari ke kebun teh untuk menggarapnya. Surtinem
menggikuti jejak orangtuanya sejak berumur 14 tahun. Surtinem mempunyai dua
adik perempuan, Tinah dan Tini, masing-masing berumur delapan dan enam tahun.
Saat Surtinem berumur dua puluh tahun, bapaknya menghilang tanpa jejak, tanpa
kabar dan sejak saat itu semua berubah, desa tersebut menjadi berantakan dan
kacau.



