Halaman

Rabu, 31 Juli 2019

Selingan Buku Alo


Gambar diambil dari Google
Setelah Alo menemukan buku sejumlah lima jilid itu, Alo menyelesaikan terlebih dahulu buku yang sudah dibacanya selama dua hari. Hamka, ya buku yang ditulis oleh Hamka. Berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Menurutnya buku ini adalah sebuah roman yang sangat mengesankan. CINTA hingga akhir hayat. Adapun aktor yang tertulis dalam cerita ini, Zainuddin-Hayati. Kedua peran utama ini memerankan apa yang disebut cinta sejati. Seperti halnya pada halaman 58 tertutur dari mulut Hayati “Biar Tuhan mendengar bahwa engkaulah yang akan jadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiadakan khianat kepada janjiku, tidak akan berdusta di hadapan Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku.”


Sungguh perkataan yang menyayat hati bila saja itu ditujukan ke setiap orang. Yang orang itu diusir dari kampung hanya karena dituduh  mencemari adat istiadat tempat mereka tinggal, Minangkabau. Walaupun akhirnya Hayati menikah dengan seorang yang kaya raya namun juga penjudi bernama Aziz. Pada saat itu Alo masih yakin bahwa kecintaan Hayati hanya pada Zainuddin seorang. Karena dalam keputusan musyawarah anggota keluarga, Hayati diberi pertanyaan tentang lamaran dari Aziz, dan dengan keterpaksaan hanya bilang “manut” kepada anggota keluarga. Dengan pernyataan dari Hayati tersebut, Alo mengerti akan keterpaksaannya, hanya untuk menyenangkan hati keluarga dan tidak menyalahi adat mereka.

Namun di halaman 150 agaknya Hayati membuat suatu persimpangan dengan kata-katanya sendiri. Alo berpendapat bahwa Hayati telah melanggar janjinya sendiri. Saat itu berkirimlah surat Hayati ke Khadijah, sahabatnya. “Memang amat ganjil hidup yang mesti kita (Hayati dan Khadijah) tempuh. Mula-mula saya cintai orang lain, anak muda lain (Zainuddin) menurutkan hati yang tidak bertimbangan, tetapi takdir Tuhan menentukan saya mesti menjadi istri Aziz. Benarlah rupanya pepatah pujangga kita Tuan Haji Agus Salim, bahwa bagi bangsa kita, cinta datangnya ialah sesudah kawin.” Dari situ Alo mengharamkan cinta suci ataupun janji suci Hayati. “Itu tak bisa disebut dengan cinta suci!!” Batin Alo.

Walaupun pada akhirnya dalam surat terakhir dari Hayati bahwa dia hanya mencintai Zainuddin. Bagi Alo itu hanya sebuah pelarian saja. bagaimana tidak. Jelas-jelas separagraf yang ditulis disurat untuk Khadijah adalah kejujuran hatinya. Saat yang lain pergi, dicarilah yang lain, yang bisa jadi sandaran hati.

Malahan Alo senang dengan peringai seorang Zainuddin. Seorang yang sabar. Walaupun pernah stres pada pertengahan hidupnya, karena ditinggal oleh belahan jiwanya. Dengan ditemani oleh sahabat sejatinya, Muluk, Ia bangkit dan dapat menjadi orang terkenal dihampir belahan Jawa-Sumatera. Sungguh sangat menyenangkan apabila seorang sahabat mampu menopang kelemahan kita. Dan memang benar, bahwa kita manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin hidup hanya sebagai individu. 


pernah diupload di Gagasfisipol.wordpress.com pada 12 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar