![]() |
| Gambar diambil dari Google |
Sungguh perkataan yang menyayat hati bila saja itu
ditujukan ke setiap orang. Yang orang itu diusir dari kampung hanya karena
dituduh mencemari adat istiadat tempat
mereka tinggal, Minangkabau. Walaupun akhirnya Hayati menikah dengan seorang
yang kaya raya namun juga penjudi bernama Aziz. Pada saat itu Alo masih yakin
bahwa kecintaan Hayati hanya pada Zainuddin seorang. Karena dalam keputusan
musyawarah anggota keluarga, Hayati diberi pertanyaan tentang lamaran dari
Aziz, dan dengan keterpaksaan hanya bilang “manut” kepada anggota keluarga.
Dengan pernyataan dari Hayati tersebut, Alo mengerti akan keterpaksaannya,
hanya untuk menyenangkan hati keluarga dan tidak menyalahi adat mereka.
Namun di halaman 150 agaknya Hayati membuat suatu
persimpangan dengan kata-katanya sendiri. Alo berpendapat bahwa Hayati telah
melanggar janjinya sendiri. Saat itu berkirimlah surat Hayati ke Khadijah,
sahabatnya. “Memang amat ganjil hidup yang mesti kita (Hayati dan Khadijah)
tempuh. Mula-mula saya cintai orang lain, anak muda lain (Zainuddin) menurutkan
hati yang tidak bertimbangan, tetapi takdir Tuhan menentukan saya mesti menjadi
istri Aziz. Benarlah rupanya pepatah pujangga kita Tuan Haji Agus Salim, bahwa
bagi bangsa kita, cinta datangnya ialah sesudah kawin.” Dari situ Alo
mengharamkan cinta suci ataupun janji suci Hayati. “Itu tak bisa disebut dengan
cinta suci!!” Batin Alo.
Walaupun pada akhirnya dalam surat terakhir dari
Hayati bahwa dia hanya mencintai Zainuddin. Bagi Alo itu hanya sebuah pelarian
saja. bagaimana tidak. Jelas-jelas separagraf yang ditulis disurat untuk
Khadijah adalah kejujuran hatinya. Saat yang lain pergi, dicarilah yang lain,
yang bisa jadi sandaran hati.
Malahan Alo senang dengan peringai seorang
Zainuddin. Seorang yang sabar. Walaupun pernah stres pada pertengahan hidupnya,
karena ditinggal oleh belahan jiwanya. Dengan ditemani oleh sahabat sejatinya,
Muluk, Ia bangkit dan dapat menjadi orang terkenal dihampir belahan
Jawa-Sumatera. Sungguh sangat menyenangkan apabila seorang sahabat mampu
menopang kelemahan kita. Dan memang benar, bahwa kita manusia adalah makhluk
sosial, tidak mungkin hidup hanya sebagai individu.
pernah diupload di Gagasfisipol.wordpress.com pada 12 Juni 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar