Halaman

Rabu, 31 Juli 2019

Peri Edlen Penyambung Mimpi

Image result for lambang peri
diambil dari Google.com

Rumor Peri Edlen sudah menyebar keseantero Bumi. Hal itu karena banyak kesaksian pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan membongkar ceritanya kepada setiap temannya yang bertanya, “bagaimana kalian dipertemukan?”
Rumor Peri Edlen sudah menyebar keseantero Bumi. Hal itu karena banyak kesaksian pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan membongkar ceritanya kepada setiap temannya yang bertanya, “bagaimana kalian dipertemukan?”
Peri Edlen bertubuh kecil, hanya lebih besar dari ibu jari. Dia datang kesetiap mimpi manusia yang banyak sekali ditanyai “kapan menikah?” oleh 500 orang dalam hidupnya. Peri Edlen mempunyai sayap kecil –sepertiga dari tubuhnya, dan berpakaian layaknya banyak peri dalam kisah nenek moyang, anggun. Dia mempunyai wangi yang khas, wangi bunga kenanga. Dan saat seseorang ditemuinya dalam mimpi, setelah terbangun dia akan mencium wangi bunga kenanga.
“Benarkah itu, mbah?” tanya Tomo pada kakeknya.
“Benar le, mereka ada. Peri Edlen akan datang pada orang-orang yang sengsara asmara. Mungkin kamu selanjutnya.” Jawab kakek sambil tersenyum. Tomo hanya membalas dengan muka masam sekaligus berpamitan.
“Aku pulang duluan ya mbah, banyak pekerjaan di rumah, kasihan bapak mengerjakannya sendiri.” Pernyataan itu dilontarkan pada sang kakek.
“Walah, cepat banget le, yaudah hati-hati di jalan le.” Jawab kakek. Tomo keluar rumah dan meninggalkan kakeknya.
Dengan motor besarnya –sepadan dengan orangnya, Tomo memikirkan apa yang dikatakan sang kakek terkait Peri Edlen. Dalam perjalanan pulang dia bertemu dengan teman masa kecilnya, Tomo hanya mengangguk seperti biasanya, lalu menambah kelajuan motor.
Hari sudah malam sesampainya di rumah, Tomo bersih-bersih badan sebentar dan bergegas ke kamarnya. Dia membaca buku agar segera tertidur. Dia juga masih memikirkan perkataan kakeknya sore tadi, berkaitan dengan Peri Edlen, peri sebesar ibu jari yang mempunyai sayap. Walaupun dia juga pernah mendengar kisah itu dulu, tapi dia belum sepenuhnya percaya. Beberapa saat kemudian dua mata belok Tomo akhirnya terpejam.
Keesokan harinya, Tomo terbangun dan kaget. Dengan mata masih ingin menutup tapi penciuman dan kesadarannya segera menggugahnya. Dia mencium wangi bunga kenanga! Lebih-lebih dia bertemu Peri Edlen dalam mimpinya. Ciri-cirinya sangat mirip seperti yang diceritakan kakeknya. Dalam mimpi itu Tomo diajak bercanda oleh sang peri. Bermain-main. Menari. Bernyanyi. Segala hal yang membahagiakan dijalaninya berdua. Dan pada akhirnya peri itu mengajaknya kesebuah perkebunan; pohon pinus. Dia berjalan mengikuti sang peri. Di sana dia dipertemukan dengan seorang gadis berambut pirang. Dari kejauhan, gadis itu tingginya hampir menyerupai Tomo. Gadis itu menari-nari sendirian di sana. Senyumnya membuat kelegaan pada Tomo. Hatinya menjadi tentram. Sang peri mengajaknya mendekati sang gadis pirang. Perlahan dia berjalan sambil melewati banyak kayu memandangi sang gadis. Dia berjalan tapi tidak melihat ke bawah, ada batu lumayan besar. Dia tersandung dan akhirnya terbangun. Tubuh Tomo bergetar setelah mencium wangi bunga kenanga. Pergilah dia ke kamar mandi, bersiap untuk bersekolah.
*
Di suatu tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal Tomo, ada seorang gadis muda nan cantik sedang asik melantunkan lagu band kesukaannya. Gadis itu berumur sama dengan Tomo, duapuluh tahun, hanya berbeda bulan lahir saja. Gadis itu sangat kolot dan tidak percaya dengan hal-hal mistis. Saat bertemu dengan teman-temannya, gadis itu mendengar bahwa terdapat peri yang baik hati di Bumi ini. Peri itu bernama Edlen. Sang gadis kaget, namanya sama dengan sang peri! Dengan senyum khas, Edlen membantah teman-temannya, “halah, apalah kalian ini, bicara tahayul mulu, ayo belajar saja!”
“kamu ih, ini sedang banyak dibicarakan orang len. Kamu harus mengikutinya, apalagi namanya sama dengan namamu, barangkali kamu bakal didatanginya!” Bantah salah satu temannya dan diikuti gelak tawa oleh lima orang gadis di sana.
“yaudahlah, aku memang tidak percaya yang begituan, aku mau pulang dulu ya, soalnya aku sudah janji sama ibukku mau beli peralatan rumah tangga.” Tanggap Edlen dan segera membereskan barang bawannya, setelah itu dia pergi.
Sore hingga malam Edlen menemani Ibunya belanja disalah satu grosir di kotanya. Setelah sampai di rumah, rasa lelah merasukinya, membuat Edlen ingin segera memeluk guling kesayangannya. Mimpi itu ternyata datang padanya. Peri Edlen memberikan kebahagiaan padanya. Tak sadar bahwa peri itu benar adanya, Edlen hanya merasakan bahagia yang luar biasa. Dia menari dan bernyanyi mengikuti irama lagu yang bersenandung. Saat mengikuti irama lagu dan menari, tiba-tiba dia tersadar sudah berada di perkebunan pohon pinus. Dia melihat sesosok bayangan dari jauh. Sosok bayangan itu mulai memunculkan tubuh aslinya. Sesosok laki-laki berambut hitam dan berpakaian rapi sedang menari-nari mengikuti irama. Sang peri hanya tersenyum pada Edlen. Saat mendekati laki-laki itu, Edlen terperosok kejurang dan terbangun dari mimpi. Dan seperti yang diceritakan oleh teman-temannya, dia mencium wangi bunga kenanga!
*
Dua hari kemudian Tomo bermimpi sama, bertemu dengan Peri Edlen. Lagi, dia terbangun setelah mengikuti sang peri karena kakinya masuk dalam selokan saat dia ingin melihat gadis penari yang masih samar mukanya –dimimpinya. Begitupun Edlen, lagi dan lagi, dia hanya mampu melihat laki-laki itu dari kejauhan. Mereka tidak mampu melihat wajah lawan mainnya dalam mimpi. Dan lagi mereka tidak menceritakan mimpi-mimpi itu pada siapapun.
*
Akhirnya mereka berpikir untuk pergi ke perkebunan pohon pinus yang berada dalam kota tempat mereka berdua tinggal. Sore hari mereka sampai di sana. Mereka sama sekali tidak mengenal, satu sama lain. Tomo hanya mengingat bahwa ramput gadis itu pirang. Tomo menelusuri setiap sudut perkebunan itu, tak satupun dia melihat gadis pirang. Sampailah dia digardu pandang, dia melihat ada seorang gadis berambut pirang biru. Tomo tersenyum dengan nafas tersenggal karena kelelahan mencari sang gadis pirang. Saat sudah dihadapannya, Tomo berkenalan dengannya. Namanya Nina. Beberapa saat kemudian Nino datang, dia pacar Nina. Tomo pamit pulang sambil menggerutu dalam hati, “mengapa mimpi itu datang padaku, lebih baik aku tidak menemuimu, bahkan dalam mimpi!”    
Pada saat Edlen sampai diparkiran perkebunan pohon pinus, dia dihubungi oleh temannya yang sakit, dia langsung beranjak pergi.


pernah diupload pada Gagasfisipol.wordpress.com pada 24 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar