![]() |
| diambil dari Google.com |
Rumor Peri Edlen sudah menyebar keseantero Bumi. Hal
itu karena banyak kesaksian pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan
membongkar ceritanya kepada setiap temannya yang bertanya, “bagaimana kalian
dipertemukan?”
Rumor Peri Edlen sudah menyebar keseantero Bumi. Hal
itu karena banyak kesaksian pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan
membongkar ceritanya kepada setiap temannya yang bertanya, “bagaimana kalian
dipertemukan?”
Peri Edlen bertubuh kecil, hanya lebih besar dari ibu jari. Dia datang kesetiap mimpi manusia yang banyak sekali ditanyai “kapan menikah?” oleh 500 orang dalam hidupnya. Peri Edlen mempunyai sayap kecil –sepertiga dari tubuhnya, dan berpakaian layaknya banyak peri dalam kisah nenek moyang, anggun. Dia mempunyai wangi yang khas, wangi bunga kenanga. Dan saat seseorang ditemuinya dalam mimpi, setelah terbangun dia akan mencium wangi bunga kenanga.
Peri Edlen bertubuh kecil, hanya lebih besar dari ibu jari. Dia datang kesetiap mimpi manusia yang banyak sekali ditanyai “kapan menikah?” oleh 500 orang dalam hidupnya. Peri Edlen mempunyai sayap kecil –sepertiga dari tubuhnya, dan berpakaian layaknya banyak peri dalam kisah nenek moyang, anggun. Dia mempunyai wangi yang khas, wangi bunga kenanga. Dan saat seseorang ditemuinya dalam mimpi, setelah terbangun dia akan mencium wangi bunga kenanga.
“Benarkah itu, mbah?” tanya Tomo pada kakeknya.
“Benar le, mereka ada. Peri Edlen akan datang pada
orang-orang yang sengsara asmara. Mungkin kamu selanjutnya.” Jawab kakek sambil
tersenyum. Tomo hanya membalas dengan muka masam sekaligus berpamitan.
“Aku pulang duluan ya mbah, banyak pekerjaan di rumah,
kasihan bapak mengerjakannya sendiri.” Pernyataan itu dilontarkan pada sang
kakek.
“Walah, cepat banget le, yaudah hati-hati di jalan
le.” Jawab kakek. Tomo keluar rumah dan meninggalkan kakeknya.
Dengan motor besarnya –sepadan dengan orangnya, Tomo
memikirkan apa yang dikatakan sang kakek terkait Peri Edlen. Dalam perjalanan
pulang dia bertemu dengan teman masa kecilnya, Tomo hanya mengangguk seperti
biasanya, lalu menambah kelajuan motor.
Hari sudah malam sesampainya di rumah, Tomo
bersih-bersih badan sebentar dan bergegas ke kamarnya. Dia membaca buku agar
segera tertidur. Dia juga masih memikirkan perkataan kakeknya sore tadi,
berkaitan dengan Peri Edlen, peri sebesar ibu jari yang mempunyai sayap.
Walaupun dia juga pernah mendengar kisah itu dulu, tapi dia belum sepenuhnya
percaya. Beberapa saat kemudian dua mata belok Tomo akhirnya terpejam.
Keesokan harinya, Tomo terbangun dan kaget. Dengan
mata masih ingin menutup tapi penciuman dan kesadarannya segera menggugahnya.
Dia mencium wangi bunga kenanga! Lebih-lebih dia bertemu Peri Edlen dalam
mimpinya. Ciri-cirinya sangat mirip seperti yang diceritakan kakeknya. Dalam
mimpi itu Tomo diajak bercanda oleh sang peri. Bermain-main. Menari. Bernyanyi.
Segala hal yang membahagiakan dijalaninya berdua. Dan pada akhirnya peri itu
mengajaknya kesebuah perkebunan; pohon pinus. Dia berjalan mengikuti sang peri.
Di sana dia dipertemukan dengan seorang gadis berambut pirang. Dari kejauhan, gadis
itu tingginya hampir menyerupai Tomo. Gadis itu menari-nari sendirian di sana.
Senyumnya membuat kelegaan pada Tomo. Hatinya menjadi tentram. Sang peri
mengajaknya mendekati sang gadis pirang. Perlahan dia berjalan sambil melewati banyak
kayu memandangi sang gadis. Dia berjalan tapi tidak melihat ke bawah, ada batu
lumayan besar. Dia tersandung dan akhirnya terbangun. Tubuh Tomo bergetar
setelah mencium wangi bunga kenanga. Pergilah dia ke kamar mandi, bersiap untuk
bersekolah.
*
Di suatu tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal
Tomo, ada seorang gadis muda nan cantik sedang asik melantunkan lagu band
kesukaannya. Gadis itu berumur sama dengan Tomo, duapuluh tahun, hanya berbeda
bulan lahir saja. Gadis itu sangat kolot dan tidak percaya dengan hal-hal
mistis. Saat bertemu dengan teman-temannya, gadis itu mendengar bahwa terdapat
peri yang baik hati di Bumi ini. Peri itu bernama Edlen. Sang gadis kaget,
namanya sama dengan sang peri! Dengan senyum khas, Edlen membantah
teman-temannya, “halah, apalah kalian ini, bicara tahayul mulu, ayo belajar
saja!”
“kamu ih, ini sedang banyak dibicarakan orang len.
Kamu harus mengikutinya, apalagi namanya sama dengan namamu, barangkali kamu
bakal didatanginya!” Bantah salah satu temannya dan diikuti gelak tawa oleh
lima orang gadis di sana.
“yaudahlah, aku memang tidak percaya yang begituan,
aku mau pulang dulu ya, soalnya aku sudah janji sama ibukku mau beli peralatan
rumah tangga.” Tanggap Edlen dan segera membereskan barang bawannya, setelah
itu dia pergi.
Sore hingga malam Edlen menemani Ibunya belanja
disalah satu grosir di kotanya. Setelah sampai di rumah, rasa lelah
merasukinya, membuat Edlen ingin segera memeluk guling kesayangannya. Mimpi itu
ternyata datang padanya. Peri Edlen memberikan kebahagiaan padanya. Tak sadar
bahwa peri itu benar adanya, Edlen hanya merasakan bahagia yang luar biasa. Dia
menari dan bernyanyi mengikuti irama lagu yang bersenandung. Saat mengikuti
irama lagu dan menari, tiba-tiba dia tersadar sudah berada di perkebunan pohon
pinus. Dia melihat sesosok bayangan dari jauh. Sosok bayangan itu mulai
memunculkan tubuh aslinya. Sesosok laki-laki berambut hitam dan berpakaian rapi
sedang menari-nari mengikuti irama. Sang peri hanya tersenyum pada Edlen. Saat
mendekati laki-laki itu, Edlen terperosok kejurang dan terbangun dari mimpi.
Dan seperti yang diceritakan oleh teman-temannya, dia mencium wangi bunga
kenanga!
*
Dua hari kemudian Tomo bermimpi sama, bertemu dengan
Peri Edlen. Lagi, dia terbangun setelah mengikuti sang peri karena kakinya
masuk dalam selokan saat dia ingin melihat gadis penari yang masih samar
mukanya –dimimpinya. Begitupun Edlen, lagi dan lagi, dia hanya mampu melihat
laki-laki itu dari kejauhan. Mereka tidak mampu melihat wajah lawan mainnya
dalam mimpi. Dan lagi mereka tidak menceritakan mimpi-mimpi itu pada siapapun.
*
Akhirnya mereka berpikir untuk pergi ke perkebunan
pohon pinus yang berada dalam kota tempat mereka berdua tinggal. Sore hari
mereka sampai di sana. Mereka sama sekali tidak mengenal, satu sama lain. Tomo
hanya mengingat bahwa ramput gadis itu pirang. Tomo menelusuri setiap sudut
perkebunan itu, tak satupun dia melihat gadis pirang. Sampailah dia digardu
pandang, dia melihat ada seorang gadis berambut pirang biru. Tomo tersenyum
dengan nafas tersenggal karena kelelahan mencari sang gadis pirang. Saat sudah
dihadapannya, Tomo berkenalan dengannya. Namanya Nina. Beberapa saat kemudian
Nino datang, dia pacar Nina. Tomo pamit pulang sambil menggerutu dalam hati,
“mengapa mimpi itu datang padaku, lebih baik aku tidak menemuimu, bahkan dalam
mimpi!”
Pada saat Edlen sampai diparkiran perkebunan pohon
pinus, dia dihubungi oleh temannya yang sakit, dia langsung beranjak pergi.
pernah diupload pada Gagasfisipol.wordpress.com pada 24 Oktober 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar