Halaman

Jumat, 26 Juli 2019

Kematian yang Lucu

gambar dari Google

Dulu sekali aku memanggilnya Mak Ijem, namun sekarang aku tidak berani memanggilnya dengan perkataan seperti itu. Aku bisa digampar karena hal tersebut. Sungguh sangat mengenaskan nasibku saat orang itu masuk dalam lingkungan hidupku, benar-benar masuk, tanpa terkecuali uang jajanku. Naas memang namun aku bisa apa, dia dipilih oleh ayahku untuk mendampinginya. Dulunya dia seorang penjual jamu keliling, aku sukadengan jamu buatannya. Namun setelah dia masuk lingkungan hidupku, aku membenci jamu, apalagi orang yang dulu suka membuatnya.
Ayahku tetiba bilang padaku sore itu, bahwa dia akan menikah lagi. Aku sungguh sangat bahagia saat itu. Kini aku menderita. Merana. Bahkan terpukul atas kebahagiaan yang dulu pernah aku rasa. Mak Ijah, sebut saja sampai akhir cerita dengan sebutan itu, masuk dalam lingkungan hidupku dan mengobrak-abrik semuanya. Memporak-porakandakan semuanya. Sungguh merintih aku dibuatnya.
Aku seorang anak berumur lima tahun dengan perilaku sungguh sangat santun, menurutku, sangat mengidolakan ayahku, yang berjuang sendirian setelah kepergian ibuku, berjuang mendidik anak-anaknya dengan sangat tegas tanpa terkecuali. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Kami memiliki selisih tiga tahun. Dan ibuku pergi dengan tenang saat aku berumur dua tahun. Kalian para pembaca tentunya bisa mengira-ira berapa umur ayahku. Di umur yang sudah banyak kepala, dia ingin menikah lagi. Tentunya aku berpikir bahwa akan ada masa dimana ayahku ingin diperlakukan seperti dulu, disayang tentunya.  

08 September 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar