![]() |
| gambar dari Google |
Dulu sekali aku memanggilnya Mak Ijem, namun sekarang aku
tidak berani memanggilnya dengan perkataan seperti itu. Aku bisa digampar
karena hal tersebut. Sungguh sangat mengenaskan nasibku saat orang itu masuk
dalam lingkungan hidupku, benar-benar masuk, tanpa terkecuali uang jajanku.
Naas memang namun aku bisa apa, dia dipilih oleh ayahku untuk mendampinginya.
Dulunya dia seorang penjual jamu keliling, aku sukadengan jamu buatannya. Namun
setelah dia masuk lingkungan hidupku, aku membenci jamu, apalagi orang yang
dulu suka membuatnya.
Ayahku tetiba bilang padaku sore itu, bahwa dia akan menikah
lagi. Aku sungguh sangat bahagia saat itu. Kini aku menderita. Merana. Bahkan
terpukul atas kebahagiaan yang dulu pernah aku rasa. Mak Ijah, sebut saja
sampai akhir cerita dengan sebutan itu, masuk dalam lingkungan hidupku dan
mengobrak-abrik semuanya. Memporak-porakandakan semuanya. Sungguh merintih aku
dibuatnya.
Aku seorang anak berumur lima tahun dengan perilaku sungguh
sangat santun, menurutku, sangat mengidolakan ayahku, yang berjuang sendirian
setelah kepergian ibuku, berjuang mendidik anak-anaknya dengan sangat tegas
tanpa terkecuali. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Kami memiliki selisih
tiga tahun. Dan ibuku pergi dengan tenang saat aku berumur dua tahun. Kalian
para pembaca tentunya bisa mengira-ira berapa umur ayahku. Di umur yang sudah
banyak kepala, dia ingin menikah lagi. Tentunya aku berpikir bahwa akan ada
masa dimana ayahku ingin diperlakukan seperti dulu, disayang tentunya.
08 September 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar