Malam berganti pagi, ayam berkokok dengan merdu, Nama
terbangun dari tidurnya.
Nama terbangun di pinggiran emper sebuah toko lama
yang sudah tutup. Gadis berumur enam tahun itu masih ingin tidur, tapi ibunya
dengan paksa menabok pantatnya hingga Nama terbangun. Sejak semalam mereka
berdua berada di sana, mereka menjajakan kerupuk kecil. Selain berjualan,
mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari berkat sumbangan yang diberikan
orang-orang yang melewati mereka. Mereka tidak mempunyai rumah tetap. Jika
hujan turun, kadang mereka menetap di sebuah pos ronda, dan jika cuaca sangat
panas, mereka memakai topi sambil berjualan, ditemani tetesan keringat mengalir
pada sekujur tubuh.
“Bu, minum es.” Kata Nama sambil menarik-narik baju ibunya
ketika Nama terbangun. Ibunya segera mengambilkan botol berisi air bening. Entah
mengapa Nama menginginkan air dingin setelah bangun dari tidurnya.
Nama segera bersiap, dan mereka memulai perjalanan
lagi, setelah beberapa jam beristirahat.
Sampai di perempatan kilometer pertama, tidak ada yang
membeli jualan mereka. Matahari sudah menyingsingkan diri, keringat mulai
berjatuhan dari dagu mereka. Ibu Nama senang melihat geliat Nama ketika
berjalan sambil tersenyum. Namun menjadi murung ketika mengingat Nama belum
sarapan, bahkan dia tidak tahu apakah akan sarapan atau tidak. Perut ibu Nama mungkin
sudah berdendang sedari tadi, dan itu tidak masalah baginya. Akan tetapi jika
perut Nama yang berdendang, ibu menjadi sangat murung, dan itu terlihat ketika
Nama yang sedang berjalan di sampingnya dengan begitu ceria tiba-tiba menjadi
sedikit lesu dan berjalan lambat. Walaupun Nama tidak mengatakan bahwa dirinya
lapar –Nama tidak mau merepotkan ibunya, tapi ibunya tahu bahwa Nama sedang
lapar. Akhirnya, mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Ibu Nama berupaya
menidurkan Nama disepoi-sepoi angin, dia ingin Nama melupakan laparnya sejenak.
“Dulu, jika aku menuruti bapakmu, mungkin kita tak
akan seperti ini, Nama. Aku terlalu egois menjadi manusia.” Kata ibu Nama dalam
hati. Teringatlah kembali masa lalunya, ketika masih berumur dua puluhan tahun.
Saat itu, Surti –nama ibu Nama, adalah seorang anak lurah di desanya. Sekitar
tahun 1997, Surti dinikahkan oleh bapaknya dengan pengusaha motor, pabriknya
dimana-mana, dan mempunyai ribuan karyawan. Saat itu Surti masih menjalin
hubungan dengan Tejo, tetangganya yang merantau ke pulau seberang. Surti sangat
mencintai Tejo, tapi apalah, Surti dengan paksa dinikahkan oleh bapaknya. Sejak
saat itu, Surti sudah tidak menghubungi Tejo, selain jauh, juga karena satu hal,
dia sudah menikah dengan pengusaha pilihan bapaknya.
Pada tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia,
para pengusaha yang tidak mampu bertahan, memberhentikan karyawan-karyawannya
dikarenakan menuntut kenaikan gaji. Termasuk perusahaan milik suami Surti.
Harta sudah tidak didapat, suami surti lebih naas lagi, dia bunuh diri dengan
cara menubrukkan badannya pada kereta. Pada saat sebelum menabrakkan dirinya
pada kereta, suami Surti berpesan agar mau ikut pergi merantau bersamanya. Pada
saat itu, Surti sudah mengandung enam bulan. Surti menolaknya, dia masih ingin
bersama keluarga dan mengembangkan bisnisnya sendiri, berjualan sayuran di
depan rumahnya.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kelahiran si
jabang bayi sudah di depan mata. Nama lahir dengan sehat dan Surti pun
demikian. Sayangnya, setelah kelahiran Nama, keluarga Surti mulai berubah.
Mereka tidak menyukai Surti beserta anaknya. Mereka merasa Surti dan Nama
adalah beban keluarga, persalinan Surti merupakan contoh kecil, semua biaya
ditanggung saudaranya. Ayah Surti yang sangat menyayanginya meninggal karena
serangan jantung tatkala tahu suami Surti bunuh diri. Ibunya sudah sangat lama
meninggal, itu terjadi saat Surti berumur dua tahun. Mendapatkan tekanan dari
berbagai pihak, Surti merasa sungkan untuk bercengkrama lagi dengan saudaranya.
Dia pergi dengan anaknya yang saat itu berumur satu setengah tahun. Warung
sayuran milik Surti pun ikut ditinggal, dia tahu bahwa sebentar lagi warung itu
juga akan bangkrut, banyak toko serba ada yang lebih bagus dan nyaman berada di
desanya.
“Ah! Andai dulu aku mengikuti katamu mas, kita akan
bahagia dengan Nama di daerah yang ingin kamu kunjungi.” Kata Surti dalam hati
sambil menunduk melihat wajah Nama. Tak terasa, air meleleh melewati pipinya,
diusaplah dengan lengan baju yang melekat pada tubuhnya.
Siang berganti sore, Nama terbangun, kaget melihat
mata merah ibunya. Nama tidak menanyakan apapun, dia sangat merasakan apa yang
dirasakan ibunya. Hanya saja, perut Nama sudah sangat kosong, dia menangis
terisak-isak, tapi tetap saja dia tidak mau berkata pada ibunya bahwa dia
lapar.
Nama ingin tidur lagi, karena dalam tidur dia tidak
merasakan apapun, dia mampu melupakan masalah yang ada dalam hidupnya maupun
hidup ibunya. “Ibu, bolehkah aku tidur lagi?” tanyanya.
Hanya anggukan yang dapat dilakukan ibu Nama. Nama
terlentang dan akhirnya membelakangi ibunya, air matanya tak mau berhenti
mengalir.
“Ini semua dampak krisis moneter saat itu, aku bisa
membayangkan jika hal tersebut tidak terjadi, kita akan hidup bahagia, bersama
bapakmu. Bahkan, kita akan menjadi keluarga paling bahagia dibanding
saudara-saudariku, mereka hanya inginkan materi yang didapat bapakmu. Sungguh,
dunia ini kejam, nak, kamu harus lebih kuat dibanding dunia. Usahaku hancur
karena para kapitalis-kapitalis pengeruk uang, otaknya hanya ada uang! Mereka
sudah mempunyai banyak toko, masih saja membangun toko di sana sini, aku
kasihan terhadap diriku, juga terhadap orang lain di jauh sana yang merasakan
hal serupa denganku. Ah, adilkah dunia ini? hanya segelinir orang yang
menguasai kehidupan milyaran orang. Bahkan ingin minum saja aku harus
membelinya! Padahal negara ini kaya dengan sumber daya alamnya. Baiklah,
tidurlah dulu, biarkan para penguasa modal mengobrak-abrik hidup kita, Nama.
Aku tahu, kamu ingin melupakan segala masalahmu dalam tidurmu, maka dari itu
tidurlah, mimpi indah, anakku.” Batin ibu Nama yang tersiksa.
pernah diterbitkan oleh Gagasfisipol.wordpress.com pada 06 Oktober 2016
pernah diterbitkan oleh Gagasfisipol.wordpress.com pada 06 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar