Halaman

Rabu, 31 Juli 2019

Cerita Nama


Malam berganti pagi, ayam berkokok dengan merdu, Nama terbangun dari tidurnya.
Nama terbangun di pinggiran emper sebuah toko lama yang sudah tutup. Gadis berumur enam tahun itu masih ingin tidur, tapi ibunya dengan paksa menabok pantatnya hingga Nama terbangun. Sejak semalam mereka berdua berada di sana, mereka menjajakan kerupuk kecil. Selain berjualan, mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari berkat sumbangan yang diberikan orang-orang yang melewati mereka. Mereka tidak mempunyai rumah tetap. Jika hujan turun, kadang mereka menetap di sebuah pos ronda, dan jika cuaca sangat panas, mereka memakai topi sambil berjualan, ditemani tetesan keringat mengalir pada sekujur tubuh.
“Bu, minum es.” Kata Nama sambil menarik-narik baju ibunya ketika Nama terbangun. Ibunya segera mengambilkan botol berisi air bening. Entah mengapa Nama menginginkan air dingin setelah bangun dari tidurnya.
“Ini nak, jangan minta es, kita tak punya uang untuk membelinya. Dagangan ibu masih banyak yang belum terjual. Segera bangun nak, ayo kita bersiap berkeliling lagi.” Jawab ibunya sambil membukakan botol minum.
Nama segera bersiap, dan mereka memulai perjalanan lagi, setelah beberapa jam beristirahat.
Sampai di perempatan kilometer pertama, tidak ada yang membeli jualan mereka. Matahari sudah menyingsingkan diri, keringat mulai berjatuhan dari dagu mereka. Ibu Nama senang melihat geliat Nama ketika berjalan sambil tersenyum. Namun menjadi murung ketika mengingat Nama belum sarapan, bahkan dia tidak tahu apakah akan sarapan atau tidak. Perut ibu Nama mungkin sudah berdendang sedari tadi, dan itu tidak masalah baginya. Akan tetapi jika perut Nama yang berdendang, ibu menjadi sangat murung, dan itu terlihat ketika Nama yang sedang berjalan di sampingnya dengan begitu ceria tiba-tiba menjadi sedikit lesu dan berjalan lambat. Walaupun Nama tidak mengatakan bahwa dirinya lapar –Nama tidak mau merepotkan ibunya, tapi ibunya tahu bahwa Nama sedang lapar. Akhirnya, mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Ibu Nama berupaya menidurkan Nama disepoi-sepoi angin, dia ingin Nama melupakan laparnya sejenak.
“Dulu, jika aku menuruti bapakmu, mungkin kita tak akan seperti ini, Nama. Aku terlalu egois menjadi manusia.” Kata ibu Nama dalam hati. Teringatlah kembali masa lalunya, ketika masih berumur dua puluhan tahun. Saat itu, Surti –nama ibu Nama, adalah seorang anak lurah di desanya. Sekitar tahun 1997, Surti dinikahkan oleh bapaknya dengan pengusaha motor, pabriknya dimana-mana, dan mempunyai ribuan karyawan. Saat itu Surti masih menjalin hubungan dengan Tejo, tetangganya yang merantau ke pulau seberang. Surti sangat mencintai Tejo, tapi apalah, Surti dengan paksa dinikahkan oleh bapaknya. Sejak saat itu, Surti sudah tidak menghubungi Tejo, selain jauh, juga karena satu hal, dia sudah menikah dengan pengusaha pilihan bapaknya.
Pada tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia, para pengusaha yang tidak mampu bertahan, memberhentikan karyawan-karyawannya dikarenakan menuntut kenaikan gaji. Termasuk perusahaan milik suami Surti. Harta sudah tidak didapat, suami surti lebih naas lagi, dia bunuh diri dengan cara menubrukkan badannya pada kereta. Pada saat sebelum menabrakkan dirinya pada kereta, suami Surti berpesan agar mau ikut pergi merantau bersamanya. Pada saat itu, Surti sudah mengandung enam bulan. Surti menolaknya, dia masih ingin bersama keluarga dan mengembangkan bisnisnya sendiri, berjualan sayuran di depan rumahnya.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kelahiran si jabang bayi sudah di depan mata. Nama lahir dengan sehat dan Surti pun demikian. Sayangnya, setelah kelahiran Nama, keluarga Surti mulai berubah. Mereka tidak menyukai Surti beserta anaknya. Mereka merasa Surti dan Nama adalah beban keluarga, persalinan Surti merupakan contoh kecil, semua biaya ditanggung saudaranya. Ayah Surti yang sangat menyayanginya meninggal karena serangan jantung tatkala tahu suami Surti bunuh diri. Ibunya sudah sangat lama meninggal, itu terjadi saat Surti berumur dua tahun. Mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, Surti merasa sungkan untuk bercengkrama lagi dengan saudaranya. Dia pergi dengan anaknya yang saat itu berumur satu setengah tahun. Warung sayuran milik Surti pun ikut ditinggal, dia tahu bahwa sebentar lagi warung itu juga akan bangkrut, banyak toko serba ada yang lebih bagus dan nyaman berada di desanya.
“Ah! Andai dulu aku mengikuti katamu mas, kita akan bahagia dengan Nama di daerah yang ingin kamu kunjungi.” Kata Surti dalam hati sambil menunduk melihat wajah Nama. Tak terasa, air meleleh melewati pipinya, diusaplah dengan lengan baju yang melekat pada tubuhnya.
Siang berganti sore, Nama terbangun, kaget melihat mata merah ibunya. Nama tidak menanyakan apapun, dia sangat merasakan apa yang dirasakan ibunya. Hanya saja, perut Nama sudah sangat kosong, dia menangis terisak-isak, tapi tetap saja dia tidak mau berkata pada ibunya bahwa dia lapar.
Nama ingin tidur lagi, karena dalam tidur dia tidak merasakan apapun, dia mampu melupakan masalah yang ada dalam hidupnya maupun hidup ibunya. “Ibu, bolehkah aku tidur lagi?” tanyanya.
Hanya anggukan yang dapat dilakukan ibu Nama. Nama terlentang dan akhirnya membelakangi ibunya, air matanya tak mau berhenti mengalir.
“Ini semua dampak krisis moneter saat itu, aku bisa membayangkan jika hal tersebut tidak terjadi, kita akan hidup bahagia, bersama bapakmu. Bahkan, kita akan menjadi keluarga paling bahagia dibanding saudara-saudariku, mereka hanya inginkan materi yang didapat bapakmu. Sungguh, dunia ini kejam, nak, kamu harus lebih kuat dibanding dunia. Usahaku hancur karena para kapitalis-kapitalis pengeruk uang, otaknya hanya ada uang! Mereka sudah mempunyai banyak toko, masih saja membangun toko di sana sini, aku kasihan terhadap diriku, juga terhadap orang lain di jauh sana yang merasakan hal serupa denganku. Ah, adilkah dunia ini? hanya segelinir orang yang menguasai kehidupan milyaran orang. Bahkan ingin minum saja aku harus membelinya! Padahal negara ini kaya dengan sumber daya alamnya. Baiklah, tidurlah dulu, biarkan para penguasa modal mengobrak-abrik hidup kita, Nama. Aku tahu, kamu ingin melupakan segala masalahmu dalam tidurmu, maka dari itu tidurlah, mimpi indah, anakku.” Batin ibu Nama yang tersiksa.

pernah diterbitkan oleh Gagasfisipol.wordpress.com pada 06 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar