Halaman

Minggu, 28 Juli 2019

Keteladanan Soekarno

Image result for soekarno
diambil dari Google


Sukarno Melangkah
Memiliki ibu bangsawan Bali; Idayu. Paman dari ibu Sukarno adalah raja terakhir kerajaan Sisingamangaraja dan ayah yang juga keturunan bangsawan Sultan Kediri; Sukemi Sosrodiharjo, menjadikan Sukarno mempunyai darah yang memang jelas-jelas anti penjajah. Tidak bisa dipungkiri, dengan darah bangsawan dan cerita-cerita heroik dari kedua orang tuanya membuat Sukarno muda mempunyai ide-ide akan memperjuangkan orang-orang tertindas.Ayah Sukarno terbilang orang tua yang keras, mengiginkan anaknya terdidik dan mempunyai disiplin tinggi. Saat Sukarno kelas lima –saat itu adalah kelas tertinggi untuk sekolah rendah Bumiputra, dia sudah diberi tambahan pelajaran; Bahasa Belanda. Ayahnya ingin menyekolahkan Sukarno ke sekolah tinggi Belanda, dan itu tidak hanya membutuhkan kecerdasan tapi juga harus pandai berbahasa Belanda. Setiap hari Sukarno mendapat tambahan pelajaran selama satu jam untuk memperdalam Bahasa Belanda.
Setelah lulus dari sekolah rendah Bumiputra Sukarno dikirim ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya. Ayahnya menitipkannya pada seseorang yang sangat mempengaruhi pemikiran dan tindakannya kelak, Haji Oemar Said (H.O.S) Cokroaminoto. Sukarno pernah berkata tentang Cokroaminoto, “.... ialah orang yang kemudian mengubah seluruh hidupku.”[1]
Surabaya adalah kota besar, penduduk sudah cukup padat. Satu hal yang paling penting, Surabaya adalah tempat yang menjadi pusat perjuangan bagi aktivis revolusioner yang melawan penjajah dan
banyak juga aktivis yang memimpin kaum buruh dan rakyat kecil. Di Surabaya juga, Cokroaminoto merupakan tokoh besar, dia bukan pedagang ataupun pegawai, saat itu dia hanya bekerja sebagai Ketua Sarekat Islam. Dan di rumah Cokroaminoto ini Sukarno menentap, jarak yang juga tidak begitu jauh dari sekolahnya.
Di rumah Cokroaminoto ini juga Sukarno mulai berdialog tentang pemikiran. Dengan banyaknya membaca dan sering berdiskusi, Sukarno memiliki rasa empati yang tinggiterhadap kaum tertindas. Terutama berdiskusi tentang penjajahan dan sistem ekonomi. Diskusi tersebut dibarengi dengan ahlinya, yakni tuan rumah; Cokroaminoto dan juga teman-teman satu indekos yang kelak  dikenal sebagai kaum kiri, seperti Muso, Alimin yang begitu pandai menguliti terjadinya kolonialisme dan mengusulkan cara perlawanan melawan penjajahan Belanda.
Selain itu juga Sukarno melihat realitas dan ketimpangan yang ada. Tidak hanya masalah ekonomi tapi juga diskriminasi antara penduduk pribumi atau “inlander” dengan penduduk asli Belanda. Sukarno melihat kemiskinan yang terjadi pada rakyat saat berjalan-jalan, sedangkan diskriminasi terjadi saat Sukarno berada di sekolah, dia dihina oleh murid-murid yang merupakan anak-anak asli Belanda sebagai anak asli pribumi. Dari situ Sukarno merasa sentimentil terhadap penjajahan Belanda.
Pada saat Sukarno di HBS, dia mengikuti kelompok belajar (studieclub), dan di sanalah dia mampu mengeluarkan gagasan serta pemikirannya. Selain masalah gagasan, kelompok belajar itu juga mempunyai kegiatan melatih kepemimpinan dan membicarakan  berbagai macam persoalan masyarakat, termasuk pemikiran politik. Pada saat itu dia berumur 16 tahun, dan dia diberi kesempatan untuk melakukan pidatonya di depan seluruh perangkat sekolah. Dengan pidato yang cemerlang dan menggebu membuat sekolah itu gempar akan namanya, yang mana pidato itu berisikan gagasan baru yang bernada melawan suasana diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda. Tidak hanya membaca, berdiskusi, dan lihai dalam berpidato, Sukarno juga rajin menulis. Dia menulis untuk majalah Oetoesan Hindia dengan nama samaran. Tulisan-tulisannya memunculkan banyak perdebatan dikalangan aktivis gerakan dan para penulis lainnya.
Setelah lulus dari HBS pada tahun 1921, Sukarno melanjutkan studinya ke Bandung. Dia belajar ilmu teknik di Kota Bandung. Bandung pada saat itu adalah kota pelajar, di sana ternyata adalah pusat gerakan rakyat yang kian maju pesat. Perlu diketahui bahwa kondisi  ekonomi Nusantara pada waktu itu sedang dalam keadaan merosot, sehingga banyak orang pengangguran, banyak pekerja dipecat, ataupun yang masih bekerja namun gajinya tidak naik padahal harga barang kebutuhan melonjak naik. Tak ayal, banyak pemogokan, demonstrasi terkait perekonomian Nusantara yang merosot. Namun, pemerintah pada saat itu mampu untuk meredam –dengan kekerasan setiap ada demonstrasi.
Keinginan rakyat untuk memberontak diakomodir oleh dua organisasi besar pada saat itu. terutama untuk rakyat miskin dan buruh, kedua organisasi tersebut ialah Sarekat Islam asuhan Cokroaminoto, Suryopranoto, Agus Salim dan masih banyak lagi, sedangkan yang lebih radikal atau bisa dikatakan kontroversial bagi pemerintah adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena terlalu konfrontasi dengan pemerintah PKI sering melakukan pemberontakan, seperti pada November 1926 di Banten dan Januari 1927 di Sumatra Barat. Namun naas, pemberontakan untuk membela kamu tertindas gagal, banyak aktivis PKI dibuang dan dibunuh. Kegagalan tersebut juga menjadikan gerakan rakyat lebih berhati-hati dalam bertindak.
Pada saat PKI dibantai Sukarno menjadi satu-satunya orang yang mengisi kekosongan pemimpin, seperti pada pernyataan Takashi Shirasi dalam bukunya Zaman Bergerak:[2]
“Ketika PKI dan Massa yang mengikutinya dibantai pada akhir 1926 dan awal 1927, generasi baru intelektual nasionalis, yang kesadaran politiknya telah terbentuk sejak awal 1920-an, muncul di pentas politik dan mulai ‘bergerak’ dari tempat yang sudah dipersiapkan oleh generasi sebelumnya. Kesadaran nasional Indonesia, dengan bahas Melayu/Indonesia sebagai bahasa politik mereka, dengan surat kabar, rapat-rapat umum, pemogokan, dan partai-partai yang terbagi secara ideologis –semua dipahami generasi baru sebagai tradisi pergerakan. Di bulan-bulan akhir 1926, Sukarno, tokoh utama Bandung Algemeene Studieclub, menulis serangkaian artikel dengan judul ‘Nasionalisme, Islam, dan Marxisme’.
Dalam pernyataan tersebut, perlu kita pahami, organisasi yang memang berkonfrontasi dengan pemerintah untuk memerdekakan Nusantara telah dibabat habis. Namun, peran Sukarno saat itu sangatlah luar biasa, dia mampu berada di antara masyarakat yang berbeda-beda ideologi dan mampu menjadi penopang aktivis PKI yang telah banyak kehilangan massanya untuk bersatu kembali melawan Belanda untuk mewujudkan cita-cita; bebas merdeka dari penjajahan.
Sukarno Berlari
Pada 1926, Sukarno lulus dari universitas di Bandung. Dia mendirikan biro teknik dengan teman sekelasnya. Namun tetap saja, itu hanya sampingan, baginya menyuarakan nasionalisme dimimbar-mimbar adalah tugas utama. Pada saat masih di universitas, dia dan teman-temannya mendirikan Algemeene Studieclub,di sana juga dia membahas persoalan-persoalan politik di Nusantara. Studieclub itu menyebar kebeberapa wilayah, bercabang-cabang, dan tumbuh, ada yang di Solo, Surabaya, dan kota-kota lainnya di Jawa. Setelah itu diterbitkanlah majalah perkumpulan yang dinamakan Suluh Indonesia Muda. Pada majalah itu juga Sukarno menuangkan gagasan-gagasannya.
Pada 1927, Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) atas dukungan dari teman-temannya yang mengikuti Algemeene Studieclub. Tujuan partai ini adalah mencapai kemerdekaan secara penuh.[3] Dengan ditopang majalah Suluh Indonesia Muda, Sukarno dengan menggebu-nggebu tapi tetap elegan mengutarakan gagasan serta pemikirannya terkait penindasan serta kemerdekaan. Karena pemikiran dan tindakan Sukarno terbilang radikal, dia bersama teman-temannya dijebloskan dalam penjara Sukamiskin pada tahun 1929. Tidak lama, Sukarno disidang dipengadilan. Pada saat itu dia membacakan pledoi (pembelaan) yang berjudul “Indonesia Menggugat”, untaian terperinci mengenai kondisi penderitaan rakyat Nusantara –akibat dijajah selama tiga setengah abad lamanya, dibeberkan secara gamblang. Namun tetap saja, Sukarno mendapat hukuman kurungan selama empat tahun.
Walaupun tidak berselang lama Sukarno dibebaskan, dia kembali dikurung, namun bukan kurungan dalam penjara, lebih parah, dia dibuang kedaerah yang jauh dari keramaian; Ende, sebuah kampung nelayan di Flores. Hal itu dikarenakan sifat Sukarno yang tetap saja “membangkang pada pemerintah” dengan berbagai macam agitasi dan kontroversi. Setelah beberapa tahun di Ende, Sukarno dipindah ke desa di belakang Bukit Barisan di Bengkulu. Di sana juga Sukarno bertemu Fatmawati, istri kedua, anak dari gurunya; Hasan din. Sebenarnya jika Jepang tidak mengusir Belanda dari Nusantara, Sukarno tidak tahu sampai kapan akan berada di Bengkulu.
Setelah melarikan diri dari Bengkulu, Sukarno sampai di Medan. Dia bertemua dengan petinggi tentara Jepang. Banyak kalangan –terutama kalangan muda menganggap bahwa terjadi negoisasi antara Jepang dengan Sukarno, itu terlihat saat Sukarno tidak seradikal dulu dalam memperjuangkan kemerdekaan yang seutuhnya. Namun dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adams, Sukarno mengatakan, ”Jepang memerlukan tenagaku dan ini kuketahui. Akan tetapi, aku pun memerlukan mereka guna mempersiapkan negeriku untuk sebuah revolusi.”[4]
Dan tibalah saat Indonesia merdeka, para pemuda sebenarnya sudah memaksa Sukarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia jauh sebelum 17 Agustus 1945. Namun, Sukarno akhirnya mau untuk menjadi Sang Proklamator bersama Muhammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Saat itulah Bangsa Indonesia telah melahirkan Manusia Indonesia Pertama; Sukarno!
Keteladanan Sukarno
Sebenarnya banyak sekali ulasan mengenai pemikiran Sukarno, namun tentu saja ada dua sumber utama literatur dalam menilik pemikirannya. Pertama adalah buku Dibawah Bendera Revolusi jilid I dan II, yang kedua adalah buku Cindy Adams; Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Dan tentu saja, banyak sekali keteladanan Sukarno yang perlu kita ikuti bahkan kembangkan.
Pertama, membaca, berdiskusi, dan menulis. Tiga hal yang sangat lekat jika kita berbicara terkait Presiden Pertama Republik Indonesia ini. Sukarno sangat suka membaca sejak kecil, walaupun dia tergolong keluarga miskin, ayahnya sangat tegas dalam mendidiknya. Terutama terkait disiplin diri. Sejak kecil ayahnya ingin menjadi Sukarno orang besar, dia di sekolahkan di HBS, bahkan didatangkan guru les Bahasa Belanda. Berdiskusi adalah tahapan berikutnya setelah membaca, sejak di Surabaya, dia tinggal bersama H.O.S Cokroaminoto. Hampir setiap saat dia berdiskusi dengan sesama anak kos dan dibimbing oleh Cokroaminoto. Dan tahapan yang memang lumayan sulit adalah menulis, tidak semua orang mau untuk menulis. Tetapi sukarno, dengan tekun menulis, baik di surat kabar ataupun majalah.
Kedua, gagasan. Sukarno sangat baik dalam hal gagasan. Dia suka membaca dan berdikusi. Setelah itu dia menuangkan gagasan-gagasannya melalui tulisan. Sungguh luar biasa, dia mempunyai gagasan mempersatukan rakyat Nusantara agar menjadi satu frame; agar Indonesia merdeka dari penjajahan. Salah satu gagasan yang fenomenal adalah Nasakom (Nasionalis-Islam-Komunis)
Ketiga, berorganisasi. Ini salah satu yang harus diwarisi oleh anak-anak Indonesia saat ini. Sukarno dalam menghimpun kekuatan massa, sangat memerlukan organisasi. Dengan bakat yang terampil, dia mampu untuk mengorganisir massa agar sepahaman dengannya. Ditambah lagi dia juga mengikuti Sarekat Islam bersama Cokroaminoto. Setlah itu dia mendirikan Partai Nasional Indonesia.
Ketiga hal itulah yang harusnya sekarang dimilik oleh jiwa-jiwa muda anak Indonesia. Dengan kita mau untuk mengikuti ataupun malah mengembangkan apa yang Sukarno lakukan, diharapkan Indonesia akan menjadi sebuah Bangsa dan Negara yang sangat kuat, baik persatuan maupun pemikiran. Dan kita sebagai anak-anak kesekian juta Indonesia haruslah meneladani anak Pertama Indonesia; Sukarno!
Daftar Pustaka
Adams, Cindy. 2007. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Jakarta: Yayasan Bung Karno.
Shiraisi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Soyomukti, Nurani. 2010. Soekarno Otoriter? Tinjauan Atas Pribadi Soekarno & Demokrasi Terpimpin. Yogyakarta: Garasi House of Book.



[1]Nurani Soyomukti. 2010. Soekarno Otoriter? Tinjauan Atas Pribadi Soekarno & Demokrasi Terpimpin. Yogyakarta: Garasi House of Book. Hlm. 25.
[2]Takashi Shiraisi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Hlm. 472
[3]Nurani Soyomukti, op. Cit. Hlm. 36.
[4]Cindy Adams. 2007. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Jakarta: Yayasan Bung Karno. Hlm. 217.



Tulisan dibuat pada 6 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar