![]() |
| diambil dari Google |
Sukarno
Melangkah
Memiliki ibu bangsawan Bali; Idayu. Paman dari ibu
Sukarno adalah raja terakhir kerajaan Sisingamangaraja dan ayah yang juga
keturunan bangsawan Sultan Kediri; Sukemi Sosrodiharjo, menjadikan Sukarno
mempunyai darah yang memang jelas-jelas anti penjajah. Tidak bisa dipungkiri,
dengan darah bangsawan dan cerita-cerita heroik dari kedua orang tuanya membuat
Sukarno muda mempunyai ide-ide akan memperjuangkan orang-orang tertindas.Ayah
Sukarno terbilang orang tua yang keras, mengiginkan anaknya terdidik dan
mempunyai disiplin tinggi. Saat Sukarno kelas lima –saat itu adalah kelas
tertinggi untuk sekolah rendah Bumiputra, dia sudah diberi tambahan pelajaran;
Bahasa Belanda. Ayahnya ingin menyekolahkan Sukarno ke sekolah tinggi Belanda,
dan itu tidak hanya membutuhkan kecerdasan tapi juga harus pandai berbahasa
Belanda. Setiap hari Sukarno mendapat tambahan pelajaran selama satu jam untuk
memperdalam Bahasa Belanda.
Setelah lulus dari sekolah rendah Bumiputra Sukarno
dikirim ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya. Ayahnya menitipkannya pada
seseorang yang sangat mempengaruhi pemikiran dan tindakannya kelak, Haji Oemar
Said (H.O.S) Cokroaminoto. Sukarno pernah berkata tentang Cokroaminoto, “....
ialah orang yang kemudian mengubah seluruh hidupku.”[1]
Surabaya adalah kota besar, penduduk sudah cukup
padat. Satu hal yang paling penting, Surabaya adalah tempat yang menjadi pusat
perjuangan bagi aktivis revolusioner yang melawan penjajah dan
banyak juga
aktivis yang memimpin kaum buruh dan rakyat kecil. Di Surabaya juga,
Cokroaminoto merupakan tokoh besar, dia bukan pedagang ataupun pegawai, saat
itu dia hanya bekerja sebagai Ketua Sarekat Islam. Dan di rumah Cokroaminoto
ini Sukarno menentap, jarak yang juga tidak begitu jauh dari sekolahnya.
Di rumah Cokroaminoto ini juga Sukarno mulai
berdialog tentang pemikiran. Dengan banyaknya membaca dan sering berdiskusi,
Sukarno memiliki rasa empati yang tinggiterhadap kaum tertindas. Terutama
berdiskusi tentang penjajahan dan sistem ekonomi. Diskusi tersebut dibarengi
dengan ahlinya, yakni tuan rumah; Cokroaminoto dan juga teman-teman satu
indekos yang kelak dikenal sebagai kaum
kiri, seperti Muso, Alimin yang begitu pandai menguliti terjadinya kolonialisme
dan mengusulkan cara perlawanan melawan penjajahan Belanda.
Selain itu juga Sukarno melihat realitas dan
ketimpangan yang ada. Tidak hanya masalah ekonomi tapi juga diskriminasi antara
penduduk pribumi atau “inlander” dengan penduduk asli Belanda. Sukarno melihat
kemiskinan yang terjadi pada rakyat saat berjalan-jalan, sedangkan diskriminasi
terjadi saat Sukarno berada di sekolah, dia dihina oleh murid-murid yang
merupakan anak-anak asli Belanda sebagai anak asli pribumi. Dari situ Sukarno
merasa sentimentil terhadap penjajahan Belanda.
Pada saat Sukarno di HBS, dia mengikuti kelompok
belajar (studieclub), dan di sanalah
dia mampu mengeluarkan gagasan serta pemikirannya. Selain masalah gagasan,
kelompok belajar itu juga mempunyai kegiatan melatih kepemimpinan dan
membicarakan berbagai macam persoalan
masyarakat, termasuk pemikiran politik. Pada saat itu dia berumur 16 tahun, dan
dia diberi kesempatan untuk melakukan pidatonya di depan seluruh perangkat sekolah.
Dengan pidato yang cemerlang dan menggebu membuat sekolah itu gempar akan
namanya, yang mana pidato itu berisikan gagasan baru yang bernada melawan
suasana diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda. Tidak hanya membaca,
berdiskusi, dan lihai dalam berpidato, Sukarno juga rajin menulis. Dia menulis
untuk majalah Oetoesan Hindia dengan
nama samaran. Tulisan-tulisannya memunculkan banyak perdebatan dikalangan
aktivis gerakan dan para penulis lainnya.
Setelah lulus dari HBS pada tahun 1921, Sukarno
melanjutkan studinya ke Bandung. Dia belajar ilmu teknik di Kota Bandung.
Bandung pada saat itu adalah kota pelajar, di sana ternyata adalah pusat
gerakan rakyat yang kian maju pesat. Perlu diketahui bahwa kondisi ekonomi Nusantara pada waktu itu sedang dalam
keadaan merosot, sehingga banyak orang pengangguran, banyak pekerja dipecat,
ataupun yang masih bekerja namun gajinya tidak naik padahal harga barang
kebutuhan melonjak naik. Tak ayal, banyak pemogokan, demonstrasi terkait
perekonomian Nusantara yang merosot. Namun, pemerintah pada saat itu mampu
untuk meredam –dengan kekerasan setiap ada demonstrasi.
Keinginan rakyat untuk memberontak diakomodir oleh
dua organisasi besar pada saat itu. terutama untuk rakyat miskin dan buruh,
kedua organisasi tersebut ialah Sarekat Islam asuhan Cokroaminoto,
Suryopranoto, Agus Salim dan masih banyak lagi, sedangkan yang lebih radikal
atau bisa dikatakan kontroversial bagi pemerintah adalah Partai Komunis
Indonesia (PKI). Karena terlalu konfrontasi dengan pemerintah PKI sering
melakukan pemberontakan, seperti pada November 1926 di Banten dan Januari 1927
di Sumatra Barat. Namun naas, pemberontakan untuk membela kamu tertindas gagal,
banyak aktivis PKI dibuang dan dibunuh. Kegagalan tersebut juga menjadikan gerakan
rakyat lebih berhati-hati dalam bertindak.
Pada saat PKI dibantai Sukarno menjadi satu-satunya
orang yang mengisi kekosongan pemimpin, seperti pada pernyataan Takashi Shirasi
dalam bukunya Zaman Bergerak:[2]
“Ketika PKI dan Massa
yang mengikutinya dibantai pada akhir 1926 dan awal 1927, generasi baru
intelektual nasionalis, yang kesadaran politiknya telah terbentuk sejak awal
1920-an, muncul di pentas politik dan mulai ‘bergerak’ dari tempat yang sudah
dipersiapkan oleh generasi sebelumnya. Kesadaran nasional Indonesia, dengan
bahas Melayu/Indonesia sebagai bahasa politik mereka, dengan surat kabar,
rapat-rapat umum, pemogokan, dan partai-partai yang terbagi secara ideologis
–semua dipahami generasi baru sebagai tradisi pergerakan. Di bulan-bulan akhir
1926, Sukarno, tokoh utama Bandung
Algemeene Studieclub, menulis serangkaian artikel dengan judul
‘Nasionalisme, Islam, dan Marxisme’.
Dalam pernyataan tersebut, perlu kita pahami,
organisasi yang memang berkonfrontasi dengan pemerintah untuk memerdekakan Nusantara
telah dibabat habis. Namun, peran Sukarno saat itu sangatlah luar biasa, dia
mampu berada di antara masyarakat yang berbeda-beda ideologi dan mampu menjadi
penopang aktivis PKI yang telah banyak kehilangan massanya untuk bersatu
kembali melawan Belanda untuk mewujudkan cita-cita; bebas merdeka dari
penjajahan.
Sukarno
Berlari
Pada 1926, Sukarno lulus dari universitas di
Bandung. Dia mendirikan biro teknik dengan teman sekelasnya. Namun tetap saja,
itu hanya sampingan, baginya menyuarakan nasionalisme dimimbar-mimbar adalah
tugas utama. Pada saat masih di universitas, dia dan teman-temannya mendirikan Algemeene Studieclub,di sana juga dia
membahas persoalan-persoalan politik di Nusantara. Studieclub itu menyebar kebeberapa wilayah, bercabang-cabang, dan
tumbuh, ada yang di Solo, Surabaya, dan kota-kota lainnya di Jawa. Setelah itu
diterbitkanlah majalah perkumpulan yang dinamakan Suluh Indonesia Muda. Pada majalah itu juga Sukarno menuangkan
gagasan-gagasannya.
Pada 1927, Sukarno mendirikan Partai Nasional
Indonesia (PNI) atas dukungan dari teman-temannya yang mengikuti Algemeene Studieclub. Tujuan partai ini
adalah mencapai kemerdekaan secara penuh.[3]
Dengan ditopang majalah Suluh Indonesia
Muda, Sukarno dengan menggebu-nggebu tapi tetap elegan mengutarakan gagasan
serta pemikirannya terkait penindasan serta kemerdekaan. Karena pemikiran dan
tindakan Sukarno terbilang radikal, dia bersama teman-temannya dijebloskan
dalam penjara Sukamiskin pada tahun 1929. Tidak lama, Sukarno disidang
dipengadilan. Pada saat itu dia membacakan pledoi (pembelaan) yang berjudul
“Indonesia Menggugat”, untaian terperinci mengenai kondisi penderitaan rakyat
Nusantara –akibat dijajah selama tiga setengah abad lamanya, dibeberkan secara
gamblang. Namun tetap saja, Sukarno mendapat hukuman kurungan selama empat
tahun.
Walaupun tidak berselang lama Sukarno dibebaskan,
dia kembali dikurung, namun bukan kurungan dalam penjara, lebih parah, dia
dibuang kedaerah yang jauh dari keramaian; Ende, sebuah kampung nelayan di
Flores. Hal itu dikarenakan sifat Sukarno yang tetap saja “membangkang pada
pemerintah” dengan berbagai macam agitasi dan kontroversi. Setelah beberapa
tahun di Ende, Sukarno dipindah ke desa di belakang Bukit Barisan di Bengkulu.
Di sana juga Sukarno bertemu Fatmawati, istri kedua, anak dari gurunya; Hasan
din. Sebenarnya jika Jepang tidak mengusir Belanda dari Nusantara, Sukarno
tidak tahu sampai kapan akan berada di Bengkulu.
Setelah melarikan diri dari Bengkulu, Sukarno sampai
di Medan. Dia bertemua dengan petinggi tentara Jepang. Banyak kalangan
–terutama kalangan muda menganggap bahwa terjadi negoisasi antara Jepang dengan
Sukarno, itu terlihat saat Sukarno tidak seradikal dulu dalam memperjuangkan
kemerdekaan yang seutuhnya. Namun dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah
Rakyat, karya Cindy Adams, Sukarno mengatakan, ”Jepang memerlukan tenagaku dan
ini kuketahui. Akan tetapi, aku pun memerlukan mereka guna mempersiapkan
negeriku untuk sebuah revolusi.”[4]
Dan tibalah saat Indonesia merdeka, para pemuda
sebenarnya sudah memaksa Sukarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia
jauh sebelum 17 Agustus 1945. Namun, Sukarno akhirnya mau untuk menjadi Sang
Proklamator bersama Muhammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Saat itulah Bangsa
Indonesia telah melahirkan Manusia Indonesia Pertama; Sukarno!
Keteladanan
Sukarno
Sebenarnya banyak sekali ulasan mengenai pemikiran
Sukarno, namun tentu saja ada dua sumber utama literatur dalam menilik
pemikirannya. Pertama adalah buku Dibawah
Bendera Revolusi jilid I dan II, yang kedua adalah buku Cindy Adams; Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat. Dan tentu saja, banyak sekali keteladanan Sukarno yang perlu kita
ikuti bahkan kembangkan.
Pertama, membaca, berdiskusi, dan menulis. Tiga
hal yang sangat lekat jika kita berbicara terkait Presiden Pertama Republik
Indonesia ini. Sukarno sangat suka membaca sejak kecil, walaupun dia tergolong
keluarga miskin, ayahnya sangat tegas dalam mendidiknya. Terutama terkait
disiplin diri. Sejak kecil ayahnya ingin menjadi Sukarno orang besar, dia di
sekolahkan di HBS, bahkan didatangkan guru les Bahasa Belanda. Berdiskusi
adalah tahapan berikutnya setelah membaca, sejak di Surabaya, dia tinggal
bersama H.O.S Cokroaminoto. Hampir setiap saat dia berdiskusi dengan sesama
anak kos dan dibimbing oleh Cokroaminoto. Dan tahapan yang memang lumayan sulit
adalah menulis, tidak semua orang mau untuk menulis. Tetapi sukarno, dengan
tekun menulis, baik di surat kabar ataupun majalah.
Kedua, gagasan. Sukarno sangat baik dalam hal
gagasan. Dia suka membaca dan berdikusi. Setelah itu dia menuangkan
gagasan-gagasannya melalui tulisan. Sungguh luar biasa, dia mempunyai gagasan
mempersatukan rakyat Nusantara agar menjadi satu frame; agar Indonesia merdeka
dari penjajahan. Salah satu gagasan yang fenomenal adalah Nasakom
(Nasionalis-Islam-Komunis)
Ketiga, berorganisasi. Ini salah satu yang
harus diwarisi oleh anak-anak Indonesia saat ini. Sukarno dalam menghimpun
kekuatan massa, sangat memerlukan organisasi. Dengan bakat yang terampil, dia
mampu untuk mengorganisir massa agar sepahaman dengannya. Ditambah lagi dia
juga mengikuti Sarekat Islam bersama Cokroaminoto. Setlah itu dia mendirikan
Partai Nasional Indonesia.
Ketiga hal itulah yang harusnya sekarang dimilik
oleh jiwa-jiwa muda anak Indonesia. Dengan kita mau untuk mengikuti ataupun
malah mengembangkan apa yang Sukarno lakukan, diharapkan Indonesia akan menjadi
sebuah Bangsa dan Negara yang sangat kuat, baik persatuan maupun pemikiran. Dan
kita sebagai anak-anak kesekian juta Indonesia haruslah meneladani anak Pertama
Indonesia; Sukarno!
Daftar Pustaka
Adams, Cindy. 2007. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Jakarta: Yayasan Bung Karno.
Shiraisi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa
1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Soyomukti, Nurani. 2010. Soekarno Otoriter? Tinjauan Atas Pribadi
Soekarno & Demokrasi Terpimpin. Yogyakarta: Garasi House of Book.
[1]Nurani Soyomukti. 2010. Soekarno Otoriter? Tinjauan Atas Pribadi
Soekarno & Demokrasi Terpimpin. Yogyakarta: Garasi House of Book. Hlm.
25.
[2]Takashi Shiraisi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa
1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Hlm. 472
[3]Nurani Soyomukti, op.
Cit. Hlm. 36.
[4]Cindy Adams. 2007. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Jakarta:
Yayasan Bung Karno. Hlm. 217.
Tulisan dibuat pada 6 Agustus 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar