![]() |
| Gambar diambil dari Google |
Kehampaan? Kekosongan?
Kesendirian? Merasa tak bisa berbuat apapun? Merasa tak bisa membantu sekitar?
Merasa hidup hanya sia-sia? Tonton dulu film ini, rasakan apa yang dirasakan
pemain utama perempuan; Hannah. Dia membuat rekaman tape untuk didengar setiap
orang, bahwa dia sungguh sangat tidak berguna lagi untuk berada di dunia atau
di sekitar mereka.
Kisah masa remaja di Amerika
ini memang banyak terjadi. Ada remaja superior dan inferior. Remaja yang kuat
baik ekonomi dan ada yang lemah. Dalam film ini, Clay sebagai pemeran utama
laki-laki mencoba untuk menelusuri kematian Hannah yang menyayat tangannya
sendiri karena putus asa.
Film dengan alur cerita yang
mirip dengan novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan ini sungguh menajubkan,
maju-mundur, guna mendeskripsikan cerita. Mungkin jika novel karya Eka tersebut
dibuat film, bakal mirip seperti itu. Alur yang menurutku sangat bagus,
maju-mundur-maju-mundur-maju. Dan memang cerita yang bagus menurutku seperti
itu, mampu menceritakan sebab akibat dalam cerita. Meskipun aku lebih suka
cerita yang nggantung agar pembaca atau penonton dapat berimajinasi dengan
akhir ceritanya.
Cerita yang berlatar
belakang remaja ini sangat cocok ditonton untuk teman-teman yang sedang mencari
jadi diri. Tentu saja hal yang buruk tidak perlu ditiru. Konflik yang disajikan
sungguh bagus, baik masalah romansa, kriminal, bullying, dan seksualitas yang seru.
Hal yang paling menonjol
adalah masalah bullying yang sering
kali terjadi di masa remaja. Pada film pun menunjukkan bahwa bunuh diri
bukanlah solusi untuk menghindar dari permasalahan. Disitu lah pentingnya peran
guru dan orangtua serta teman dekat yang dapat membangkitkan gairah hidup. Bukan
malah dihujat. Bukankah kalau seseorang sudah tak ada, akan terasa berbeda, akan
ada kekosongan dalam hati, dan itu tidak bisa dipungkiri. Klise sekali bukan.
Yogyakarta, April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar