Halaman

Sabtu, 16 Mei 2020

13 Reasons Why – Film

Gambar diambil dari Google

Kehampaan? Kekosongan? Kesendirian? Merasa tak bisa berbuat apapun? Merasa tak bisa membantu sekitar? Merasa hidup hanya sia-sia? Tonton dulu film ini, rasakan apa yang dirasakan pemain utama perempuan; Hannah. Dia membuat rekaman tape untuk didengar setiap orang, bahwa dia sungguh sangat tidak berguna lagi untuk berada di dunia atau di sekitar mereka.

Kisah masa remaja di Amerika ini memang banyak terjadi. Ada remaja superior dan inferior. Remaja yang kuat baik ekonomi dan ada yang lemah. Dalam film ini, Clay sebagai pemeran utama laki-laki mencoba untuk menelusuri kematian Hannah yang menyayat tangannya sendiri karena putus asa.


Film dengan alur cerita yang mirip dengan novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan ini sungguh menajubkan, maju-mundur, guna mendeskripsikan cerita. Mungkin jika novel karya Eka tersebut dibuat film, bakal mirip seperti itu. Alur yang menurutku sangat bagus, maju-mundur-maju-mundur-maju. Dan memang cerita yang bagus menurutku seperti itu, mampu menceritakan sebab akibat dalam cerita. Meskipun aku lebih suka cerita yang nggantung agar pembaca atau penonton dapat berimajinasi dengan akhir ceritanya.

Cerita yang berlatar belakang remaja ini sangat cocok ditonton untuk teman-teman yang sedang mencari jadi diri. Tentu saja hal yang buruk tidak perlu ditiru. Konflik yang disajikan sungguh bagus, baik masalah romansa, kriminal, bullying, dan seksualitas yang seru.

Hal yang paling menonjol adalah masalah bullying yang sering kali terjadi di masa remaja. Pada film pun menunjukkan bahwa bunuh diri bukanlah solusi untuk menghindar dari permasalahan. Disitu lah pentingnya peran guru dan orangtua serta teman dekat yang dapat membangkitkan gairah hidup. Bukan malah dihujat. Bukankah kalau seseorang sudah tak ada, akan terasa berbeda, akan ada kekosongan dalam hati, dan itu tidak bisa dipungkiri. Klise sekali bukan.   

Yogyakarta, April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar