Halaman

Kamis, 21 Mei 2020

Pulang Kampung


Gambar diambil dari Google.com
Lemon pulang ke desa setelah hampir lima tahun merantau di Ibu Kota. Baginya, bertemu orangtua di desa adalah hal yang diimpikannya sejak dulu. Kesibukannya di Ibu Kota sebagai buruh bangunan yang hanya ikut kontraktor menyebabkan dia sulit untuk pulang ke kampung halaman, pun tabungannya hanya akan habis diongkos saja. Lemon masih bujang, berumur 25 tahun, di Ibu Kota yang penuh kejenuhan, kurang bergairah, alat kelaminnya hanya untuk mengeluarkan air pesing saja.


Pulang kampung dengan terpaksa, membawa uang hasil bekerja seadanya saja, karena di sana Lemon tak kuat berdiam diri, wabah Korona melahap rejeki tiap hari. Lemon pun memutuskan untuk pulang kampung, sebelum dilarang oleh yang berwenang dan menghakimi.

Kaget dengan perubahan yang sangat tampak di desa, Lemon bertanya pada bapaknya, sudah berapa lama ini itu dibangun dengan seksama dan seirama. Tugu pancoran yang nyata di depan desa, menjadi ikon bagi desanya tinggal. Gapura yang dicat biru muda, mengupayakan keindahan semesta. Dan pepohonan yang rindang di tepi jalan, layaknya bintang yang bertebaran tak terhingga.

Bapaknya menjawab, ini semua berkat kerjasama manusia-manusia tak bersuara itu.

Lemon melihat bapaknya dengan mata terpicing dan dahi mengercit. Apa maksudmu pak? Bukankah manusia-manusia di desa ini dapat bersuara? Buktinya tadi aku lewat sambil bertegur sapa, menanya kabar dan berbasa-basi ria layaknya manusia sosial penuh topeng warna warni bak pelangi.

Nak, setelah dulu kau pergi, setahun yang lalu, warga di sini tak mau bersuara. Mereka sudah tak bernyali, mereka sudah tak punya ruh untuk ikut bersuara. Kau pergi dengan suara-suara mereka Nak, dan mereka merelakan suaranya kau bawa.

Nak, apa yang kau lihat barusan adalah benda-benda yang diberikan oleh pemodal. Mereka membangun pabrik raksasa di belakang desa, mereka merampasnya dengan bangga, merasa telah membantu desa kita dengan tetek bengek yang telah diberikan. Padahal telah terjadi perampasan hak yang mesti kamu tahu Nak.

Surat-surat dipalsukan oleh mereka, dan kami yang buta tak mampu bicara hanya mengamini mereka yang kuat lagi perkasa. Mereka menggandeng Pak Camat Nak, perizinan dipermudah, bahkan pekarangan tetangga kita diganti rugi, bukan ganti untung.

Maka, pergi lah Nak, Bapakmu ini lebih bahagia kamu pergi. Desa ini sudah tak bisa diharapkan lagi, akan hancur sebentar lagi. Apalagi dengan senjata api. Kepulanganmu hanya bersiap menjadi abu yang disempaskan angin pagi.

Yogyakarta, Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar