Halaman

Kamis, 07 Mei 2020

Larung - Ayu Utami

gambar dari Google.com

Buku lanjutan dari Saman dalam dwilogi buku karya Ayu Utami ini mengangkat kisah pemuda bernama Larung. Sosok yang dalam cerita menurutku kurang berperan besar, karena setelah aku membaca buku ini adalah lanjutan cerita yang seharusnya bisa satu buku dengan buku Saman namun mungkin karena masalah waktu, akhirnya dilanjutkan dalam buku yang berbeda.

Dalam perkenalannya, Larung ditonjolkan orang yang sangat sadis, dia ingin membunuh neneknya sendiri! Pada awal-awal buku ini lebih pada cerita metafisik si nenek yang ternyata berdampak pada kehidupan keluarganya. Setelah berhasil menguburkan neneknya, cerita kembali pada empat teman yang berkumpul di New York, Amerika.


Pada buku ini lebih banyak mengisahkan kepribadian keempat sahabat perempuan, Layla, Cok, Yasmin, dan Shakuntala. Masing-masing mempunyai porsinya, cukup untuk menggambarkan sifat dan watak mereka. Tidak jauh dari buku Saman, buku ini juga berkisah tentang perselingkuhan, seksualitas, psikologi, romansa, perjuangan akan keadilan, dan sedikit banyak menyindir para alat pemerintahan dalam pertahanan melanggengkan kekuasaan.

Aku berpendapat bahwa pembahasan awal mengenai perkenalan Larung dalam cerita kurang masuk pada akhir cerita, seperti untuk apa sih Ayu Utami menjelaskan panjang lebar masa lalu Larung, sedangkan kurang berpengaruh pada akhir cerita. Karena toh Larung hanya dipernalkan bahwa dia temannya Cok, yang dikenalkan kepada Yasmin, lalu dikenalkan pula kepada Saman yang ada di New York. Dan awal mula Cok bertemu dengan Larung pertama kali saat pemakaman neneknya, si pengguna susuk gotri, yang badan dan kepalanya disobek-sobek oleh Larung. Lumayan ngeri sih baca cerita yang ini.

Meskipun perkenalan terlalu panjang (untuk Larung), secara menyeluruh cerita menarik, apalagi saat-saat menegangkan dikejar polisi. Walaupun akhirnya mati, dikunyah oleh peluru dan dibuang ke laut. Ya, seperti cerita para aktivis atau wartawan masa Orde Baru yang hilang mendadak entah kemana.

Yogyakarta, April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar