Halaman

Kamis, 14 Mei 2020

Covid-19 Memperkaya Hati di Saat Bulan Ramadhan

https://bit.ly/posterbcdd
Semenjak wabah pandemi Covid-19 merebak di Yogyakarta, dusun saya mulai mempersiapkan strategi-strategi jitu dalam penanganan pencegahan terhadap Covid-19. Wabah pandemi Covid-19 ini membuat beberapa warga harus dirumahkan dari pekerjaannya pada awal April. Meskipun begitu, banyak masyarakat antusias dalam menggalang dana untuk kebutuhan yang harus dipenuhi masyarakat pada masa wabah ini.

Pemangku kebijakan dusun mulai membuat tim gugus tugas dalam penanganan pencegahan Covid-19. Dimulai dari pembuatan aturan-aturan (tentu saja berkoordinasi dengan Kelurahan/Desa) yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pembuatan portal jalan yang berguna sebagai shock therapy bagi tamu yang akan berkunjung. Bahkan dengan tegas warga setuju untuk menolak sanak saudara yang ingin mudik/pulang kampung dan pendatang yang ingin mengontrak rumah atau indekos.


Setiap elemen masyarakat bahu-membahu dalam pencegahan terhadap Covid-19 ini. Dimulai dari pemangku wilayah dusun, tiap ketua RT dan RW, Ibu-ibu PKK, dan Pemuda bergotong-royong untuk ini. Lain daripada itu, ternyata dampak Covid-19 tidak hanya masalah kesehatan, namun juga sosial dan ekonomi. Seperti cerita di atas, banyak masyarakat yang dirumahkan oleh perusahaannya semasa wabah Covid-19 ini, dan ini tidak hanya di dusun saya, namun juga wilayah lainnya. Dampak dari hal itu, banyak kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, apalagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Hal-hal tersebut yang membuat dampak ekonomi mampu mempengaruhi tatanan sosial yang ada.

Keadaan memaksa seperti kebutuhan yang harus terpenuhi membuat beberapa oknum akhirnya mencari jalan pintas; mengambil barang bukan miliknya. Hal-hal tersebut yang oleh dusunku harus diantisipasi terlebih dahulu. Berawal dari sana, tim gugus tugas menggodog kebijakan-kebijakan yang mampu mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan; pencurian. Portalisasi jalan-jalan menuju ke dusun menjadi prioritas penutupan dan hanya dibuat satu pintu keluar-masuk dusun yang akan dijaga oleh pemuda. Hal itu selain mencegah warga luar bertamu tapi juga agar pencuri berpikir dua kali untuk masuk dusun.

Dampak sosial perihal kebutuhan yang mendesak membuat tim gugus tugas dusun menggerakkan masyarakat yang terpandang mampu untuk menyisihkan sedikit rejekinya guna masyarakat yang kurang mampu. Apalagi disaat wabah pandemi Covid-19 tentu kebutuhan semakin meningkat. Setelah dilontarkan ke masyarakat, ternyata banyak warga malah berlomba-lomba bersedekah untuk yang lain.

Di bulan yang suci ini, Bulan Ramadhan, banyak masyarakat (bahkan beberapa yang dirumahkan oleh perusahaannya) ternyata mengulurkan bantuan. Koordinasi yang sangat apik diperlihatkan oleh elit dusun, bagaimana Takmir Masjid dan tim gugus tugas mampu berkoordinasi dengan baik, tentu dengan caranya masing-masing. Pembagian sembako yang berulang kali dilakukan untuk masyarakat yang sangat membutuhkan menjadi fakta saat ini bahwa istilah homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi sesama manusia adalah salah.

Bulan Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hampir seluruh masjid sepi, taraweh disarankan di rumah saja, itu adalah himbauan dari pemerintah. Bahkan tidak disarankan pula saat hari raya idul fitri banyak masyarakat yang berkunjung untuk silaturahmi, lebih baik menggunakan gawai masing-masing via online. Meskipun begitu, ternyata tidak menutup kekayaan hati masyarakat di dusun saya. Banyak masyarakat bergerak untuk saling membantu. Seperti contohnya, saat yang lain iuran uang untuk membuat portal, salah satu keluarga iuran besi. Dalam arti, masyarakat sangat ingin membantu sesuai dengan kemampuannya. Contoh lainnya, ketika sedang kerjabakti semasa puasa, beberapa warga yang tidak mampu untuk iuran pembuatan portal, dengan kekayaan hati membuatkan makanan dan minuman guna buka puasa.

Wabah pandemi Covid-19 memang suatu hal yang baru dan akan membuat kebiasaan-kebiasaan masyarakat ke depan yang juga baru. Hal tersebut bukan suatu alasan bagi kita untuk berdiam diri di rumah, namun justru kita harusnya berlomba-lomba dalam kebaikan dan menunjukan kekayaan hati. Kita perlu syukuri bersama, mungkin itu lah kebaikan yang tampak di Bulan Ramadhan di saat wabah pandemi Covid-19 ini.    

#CeritakuDariRumahDDSulsel
#BlogCompetitionCeritakuDariRumah
Yogyakarta, Mei 2020


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku Dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadhan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar