![]() |
| https://bit.ly/posterbcdd |
Semenjak wabah pandemi
Covid-19 merebak di Yogyakarta, dusun saya mulai mempersiapkan
strategi-strategi jitu dalam penanganan pencegahan terhadap Covid-19. Wabah pandemi
Covid-19 ini membuat beberapa warga harus dirumahkan dari pekerjaannya pada
awal April. Meskipun begitu, banyak masyarakat antusias dalam menggalang dana
untuk kebutuhan yang harus dipenuhi masyarakat pada masa wabah ini.
Pemangku kebijakan dusun
mulai membuat tim gugus tugas dalam penanganan pencegahan Covid-19. Dimulai
dari pembuatan aturan-aturan (tentu saja berkoordinasi dengan Kelurahan/Desa) yang
harus dilakukan oleh masyarakat dan pembuatan portal jalan yang berguna sebagai
shock therapy bagi tamu yang akan
berkunjung. Bahkan dengan tegas warga setuju untuk menolak sanak saudara yang
ingin mudik/pulang kampung dan pendatang yang ingin mengontrak rumah atau
indekos.
Setiap elemen masyarakat
bahu-membahu dalam pencegahan terhadap Covid-19 ini. Dimulai dari pemangku
wilayah dusun, tiap ketua RT dan RW, Ibu-ibu PKK, dan Pemuda bergotong-royong
untuk ini. Lain daripada itu, ternyata dampak Covid-19 tidak hanya masalah
kesehatan, namun juga sosial dan ekonomi. Seperti cerita di atas, banyak
masyarakat yang dirumahkan oleh perusahaannya semasa wabah Covid-19 ini, dan
ini tidak hanya di dusun saya, namun juga wilayah lainnya. Dampak dari hal itu,
banyak kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, apalagi yang sudah berkeluarga dan
mempunyai anak. Hal-hal tersebut yang membuat dampak ekonomi mampu mempengaruhi
tatanan sosial yang ada.
Keadaan memaksa seperti
kebutuhan yang harus terpenuhi membuat beberapa oknum akhirnya mencari jalan
pintas; mengambil barang bukan miliknya. Hal-hal tersebut yang oleh dusunku
harus diantisipasi terlebih dahulu. Berawal dari sana, tim gugus tugas menggodog
kebijakan-kebijakan yang mampu mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan;
pencurian. Portalisasi jalan-jalan menuju ke dusun menjadi prioritas penutupan
dan hanya dibuat satu pintu keluar-masuk dusun yang akan dijaga oleh pemuda.
Hal itu selain mencegah warga luar bertamu tapi juga agar pencuri berpikir dua
kali untuk masuk dusun.
Dampak sosial perihal kebutuhan
yang mendesak membuat tim gugus tugas dusun menggerakkan masyarakat yang
terpandang mampu untuk menyisihkan sedikit rejekinya guna masyarakat yang kurang
mampu. Apalagi disaat wabah pandemi Covid-19 tentu kebutuhan semakin meningkat.
Setelah dilontarkan ke masyarakat, ternyata banyak warga malah berlomba-lomba
bersedekah untuk yang lain.
Di bulan yang suci ini,
Bulan Ramadhan, banyak masyarakat (bahkan beberapa yang dirumahkan oleh
perusahaannya) ternyata mengulurkan bantuan. Koordinasi yang sangat apik
diperlihatkan oleh elit dusun, bagaimana Takmir Masjid dan tim gugus tugas mampu
berkoordinasi dengan baik, tentu dengan caranya masing-masing. Pembagian
sembako yang berulang kali dilakukan untuk masyarakat yang sangat membutuhkan
menjadi fakta saat ini bahwa istilah homo
homini lupus atau manusia adalah serigala bagi sesama manusia adalah salah.
Bulan Ramadhan tahun ini
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hampir seluruh masjid sepi, taraweh
disarankan di rumah saja, itu adalah himbauan dari pemerintah. Bahkan tidak
disarankan pula saat hari raya idul fitri banyak masyarakat yang berkunjung
untuk silaturahmi, lebih baik menggunakan gawai masing-masing via online. Meskipun begitu, ternyata
tidak menutup kekayaan hati masyarakat di dusun saya. Banyak masyarakat
bergerak untuk saling membantu. Seperti contohnya, saat yang lain iuran uang
untuk membuat portal, salah satu keluarga iuran besi. Dalam arti, masyarakat
sangat ingin membantu sesuai dengan kemampuannya. Contoh lainnya, ketika sedang
kerjabakti semasa puasa, beberapa warga yang tidak mampu untuk iuran pembuatan
portal, dengan kekayaan hati membuatkan makanan dan minuman guna buka puasa.
Wabah pandemi Covid-19
memang suatu hal yang baru dan akan membuat kebiasaan-kebiasaan masyarakat ke
depan yang juga baru. Hal tersebut bukan suatu alasan bagi kita untuk berdiam
diri di rumah, namun justru kita harusnya berlomba-lomba dalam kebaikan dan
menunjukan kekayaan hati. Kita perlu syukuri bersama, mungkin itu lah kebaikan yang
tampak di Bulan Ramadhan di saat wabah pandemi Covid-19 ini.
#CeritakuDariRumahDDSulsel
#BlogCompetitionCeritakuDariRumah
Yogyakarta, Mei 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar